di Indo udah ada kok. itu buku lumayan lama, malah seingatku sebelum five people you meet in heaven. kemarin barusan lihat film-nya, produksi Harpo. adaptasinya bagus.
The happy girl Tahun ini saya dan Nino merayakan ulang tahun pernikahan yang ke-20. Karena angkanya cukup istimewa (dan genap :p) saya ingin kencan yang nggak biasa-biasa aja. Di akhir bulan Mei saya sudah booking ke Nino, biar nggak tabrakan sama acara rapat-rapatnya. "Mas, nanti pas anniversary kita, nge-date yuk?" Nino dengan sigap membuka Google Calendar di tabletnya, langsung mengiyakan. "Oke... tanggal berapa?" tanyanya dengan nada datar. And I am like, "Excuse meeee..." Hahaha, same old Nino, jarang ingat tanggal anniversary kami. Saya nggak pernah mempermasalahkan hal sepele seperti lupa tanggal, lha wong saya sendiri juga pernah lupa. Saya merasa sudah cukup mengenalnya untuk tidak menaruh harapan terlalu tinggi untuk hal-hal yang sepele. Kalau tidak mau dikecewakan soal kado ultah, misalnya, ya saya kasih hint yang terang benderang. Biar surprise-nya masih ada (sedikit), tapi saya nggak kecewa karena bakal terima kado sesuai harapan, haha. Di u...
Nindi will start school next week. This means that I will have a luxurious free time, 6 hours a day, 5 days a week (ta di ha ha, looking forward to that). This summer holiday made me exhausted. Nino and I (mostly me) had to look after Nindi 7 days a week. The days are long and hot. Nindi refused to go to bed early because sunset is about 8.30 pm. “It’s not night yet, Mommy. Why I must go to bed?” Hiks. I can do something for myself without her interruption after 9.30 pm. But at that time, I’ve already been exhausted. I couldn’t do some writing anymore. The least I can do is watching DVD with Nino (thank God for that). Back to my ‘free time’. As I’ll have plenty of time to do something, I started to find a casual or part time job. I joined the biggest job search engine in Australia and also the one provided by the government. It turned out that being a job seeker is really tiring and frustrating. I had no idea how frustrating it was since I had no experience searching the jobs in ...
Di Sydney University ada dua macam wisuda: yang beneran dan yang bohong-bohongan. Beruntung Nino bisa mengikuti wisuda yang beneran, asli. Biasanya, international student (siswa yang berasal dari luar Australia, baik yang mendapat beasiswa maupun yang bayar sendiri) langsung pulang kampung begitu studinya selesai. Padahal wisuda baru akan dilaksanakan kurang lebih 9 bulan (atau satu setengah semester setelah masa studi selesai. Karena itu, banyak dari mereka yang tidak dapat mengikuti wisuda (kecuali yang mampu beli tiket pp dari negara asal, khusus untuk menghadiri wisuda). Untuk mengobati kekecewaan para siswa yang tidak bisa mengikuiti wisuda, maka pihak Sydney Uni membuat semacam wisuda bohong-bohongan dengan istilah keren: homecoming seminar . Pada acara ini, para 'lulusan' boleh menyewa toga dan berfoto-foto bersama di Quadrangle (Gedung pusat Sydney Uni). Tak lupa, disediakan kue-kue dan minum-minum. Suami saya menyelesaikan studinya Agustus 2008. Selesai disini b...
Masih dalam suasana jetlag sehabis liburan, kemarin Lil A (11 tahun) mengalami break down. Di meja makan, saya melihat buku sketsanya terbuka, ada gambar terakhir yang diurek-urek. Anaknya duduk lesu di lantai. Suara mother monster di kepala saya menggerutu, "Hadeh, drama queen. Opo meneeeeh?" Untungnya suara ini tidak keluar beneran dari mulut saya. Saya dekati anaknya. "Are you okay?" Lil A diam saja. "Do you want to tell me what's going on?" Anaknya masih diam saja. Saya nggak maksa lebih lanjut. Saya tunggu beberapa menit sambil mengerjakan hal-hal lain. Ketika anaknya tidak beranjak dari lantai, saya dekati lagi. "Is there something wrong with your drawing? I just saw your sketchbook..." Ambyaaar. Lil A langsung mewek. "I don't think I can draw anymore. My drawing becoming worse and worse. Now it's worse than my previous one." "Oh... Sorry to hear that." Saya bukan orang ya...
Tadinya aku nggak mau ikut-ikutan nulis tentang zonasi yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Tapi karena banyak yang ingin tahu tentang sistem sekolah di sini, aku akan membagikan pengalaman keluarga kami ‘mencarikan’ sekolah menengah buat Lil A (11 tahun). Semoga bisa menambah wawasan. Kami tinggal di kota Frankfurt am Main di negara bagian Hessen. Sekolah dasar (Grundschule) di sini, sama dengan sebagian besar negara bagian lain di Jerman, hanya sampai kelas 4. Mulai kelas 5, anak-anak masuk sekolah menengah yang terbagi menjadi tiga macam: Hauptschule, Realschule, dan Gymnasium. Jerman menerapkan wajib belajar sampai anak-anak berusia 16 tahun. Undang-undang mengamanatkan setiap anak (tidak peduli status kependudukannya, apakah imigran atau refugee) berhak mendapatkan akses pendidikan, selama anak ini tinggal di Jerman dan belum menginjak usia 16 tahun. Pemerintah wajib menyalurkan anak usia sekolah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggal. Ini mirip dengan ketika ...
Lil A di Grundschule Hari ini hari terakhir Lil A sekolah di SD. Grundschule di sini hanya sampai kelas 4. Setelah itu langsung lanjut ke kelas 5 di Sekolah Menengah. Lil A sudah mendapatkan sekolah menengah yaitu Adorno Gymnasium yang lumayan dekat dengan rumah, 15 menit naik sepeda. ‘Hari Kelulusan’ SD di sini biasa banget. Nggak ada perayaan apa-apa, nggak ada wisuda yang ekstravaganza. Lha wong nggak ada ujiannya juga. Lil A pun hanya mendapatkan Zeugnis alias raport thok til, yang cuma dua halaman kertas biasa. Nggak ada ijazah SD (Mbuh nanti gimana kalau mau ngelanjutin ke SMP di Indonesia, dipikir engko), nggak ada SHUN (UN-nya aja nggak adaaaa). Aku pikir tadi bakalan ada semacam pentas seni tutup tahun gitu. Aku udah siap-siap hadir sore hari meski gak terima undangan. Kupikir Lil A kelewat ngasih undangannya. Meski aku agak melow karena Nino masih dines di LN. Ternyata nggak ada apa-apa babar blas. Aku tadi cuma pamitan sama carer-carer Lil A di Betr...
Happy birthday to you... You were born at the zoo... You look like a monkey... And smell like one too... Hehehe... I love this song, from Madagascar Cartoon. Huah, 27 now. get ready to: 1. publish my fourth book 2. get a job here 3. have my second child (not a second husband, hehehe) insyaallah, this year. A.K.
Kembali ke Australia rasanya kok kayak pulang kampung aja. No surprise, no more excitement . Semua masih seperti enam bulan yang lalu ketika kami kembali ke Indonesia. Mulai menginjakkan kaki di bandara, saya sudah tahu mau menuju kemana. Melewati petugas imigrasi, saya juga kalem-kalem aja, bahkan saya kepedean menyapa mereka duluan. Bandingkan dengan waktu pertama kali saya ke Australia, deg-deg-an terus bawaannya. Takut enggak ngerti mereka ngomong apa. Padahal toefl saya lumayan loh... cuma tingkat percaya diri saya saja yang rendah. Maklum, saya ini memang soliter di dunia nyata. Nino was as handsome as ever. We hugged and kissed and went home by taxi. Tempat tinggal kami juga seperti yang saya bayangkan. Harga barang-barang di sini juga belum naik (ugh, jangan sampai). Susu cair satu liter masih $1.09, sayap ayam mentah satu kilo masih $2.60, tempe satu kotak juga masih $2.50, teh kotak 200 mL $1.10. Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge juga masih semegah sebelumnya. ...
Tagihan Rumah Sakit. Semua ditanggung BPJS. Total Harus Bayar Rp 0 Aku barusan bayar BPJS untuk Ayah Ibuku, alhamdulillah bulan September ini belum naik, masih 80ribu per orang untuk kelas 1. Aku dan adikku, Dila Maretihaq patungan untuk bayarin iuran BPJS Ayah Ibu kami setiap bulan. Beberapa hari ini obrolan tentang BPJS ramai lagi. Ada yang pro, ada yang kontra. Yang pro sampai ada yang nggoblok-goblokin yang kontra. Aku kok rasane piye ngono baca yang kayak gini. Kurasa kampanye tentang BPJS kok kurang berhasil dan kurang pas ya. Pemerintah masih gagal mengedukasi masyarakat tentang asuransi. Pengertian dasar tentang asuransi aja masih sering disalahpahami, dan malah 'diselimurkan' sebagai gotong-royong atau membantu sesama. Ini kok kayak mbujuki anak kecil supaya mau makan dengan bilang kalau gak makan ntar ayamnya mati. Ya agak susah diterima logikanya. Mbok terus terang saja: kita bayar asuransi untuk menutupi risiko (kejadian yang tidak diinginka...
The best things we have in our first month here, suprisingly, is the food. It's great to master my own kicthen, as in Malang, its the authority of our maid. hehehe. We start cooking the simple things such as any ingredients w instant spices. no wonder if our cooking is always special. sate, soto, empal, rendang, nasgor, opor, ayam goreng, anything w instant spices. thanks for bamboe, and indofood and kokita, for making me not such an idiot cook. then we dare to try another recipe w/o the instant help. and we're still success. my Mum would not believe me if 'this lazy girl' can cook Sapi Lada Hitam w/ Paprika. Hem, yummy! A.K. ps: in the pics, Nino's cooking in our kitchen
Comments