di Indo udah ada kok. itu buku lumayan lama, malah seingatku sebelum five people you meet in heaven. kemarin barusan lihat film-nya, produksi Harpo. adaptasinya bagus.
Orang sini biasanya meletakkan begitu saja barang-barang yang sudah tak terpakai lagi di depan rumah mereka. Kalau ada barang-barang yang ditaruh di luar pagar, berarti sudah milik umum, siapa saja boleh mengambil. Ketika kami pertama kali datang ke Sydney, kami sering sengaja jalan-jalan untuk 'memulung' barang-barang bekas. Banyak yang kondisinya masih bagus. Alhasil, apartemen kami waktu itu penuh dengan barang-barang temuan seperti rak DVD, meja lukis, boneka, bahkan kasur. Sekarang sih kami tidak begitu bernafsu untuk menjadi 'pemulung'. Maklum, sudah lebih tahu di mana bisa cari barang-barang bagus dengan harga murah. Tapi minggu kemarin saya melihat stroller bagus tergeletak begitu saja di pinggir jalan. Saya tidak tahan untuk tidak memungutnya (setelah tengok kanan kiri dan memastikan bahwa keadaan aman, hehehe). Masih bagus sekali, nyaris seperti baru. Stroller seperti ini kalau baru harganya sekitar $200 an. Saya sampai bingung menerka mengapa barang sebag...
Asyik, akhirnya saya berhasil mendaftar sebagai anggota Lakemba Library . Seneng deh punya tempat main baru. Perpustakaan dijadiin tempat main? Nggak salah tuh? Jangan dibayangkan perpustakaan itu tempat yang dingin, lembab, penuh buku-buku tua berdebu dan dijaga oleh ' grumpy old woman '. Di sini, perpustakaan, meskipun tempatnya kecil (seluas minimarket Indomaret gitu deh), penuh dengan buku-buku baru, majalah glossy , koran dari berbagai bangsa, DVD, CD musik, internet gratis dan pojokan tempat main anak-anak. Gimana nggak asyik? Sejak pertama datang ke Lakemba, saya sudah berniat cepat-cepat mendaftar sebagai anggota perpustakaan. Syarat menjadi anggota sebenarnya gampang: 1. Photo ID (kartu identitas yang ada foto dirinya) dan 2. Proof of address (bukti kita tinggal di daerah situ). Untuk syarat pertama, saya bisa menggunakan paspor. Syarat kedua ini yang lumayan repot. Di sini, yang biasa digunakan sebagai bukti alamat adalah surat izin mengemudi (di sini nggak ad...
Makan siang Diet Mayo hari pertama Beneran nih mau nyoba diet mayo? Sudah baca pengalaman saya di sini kan? Nggak usah takut, dietnya nggak nyiksa-nyiksa banget kok, seenggaknya buat saya. Menu diet mayo sudah ditentukan untuk 13 hari. Ada menu sampai hari ketujuh, lalu hari kedelapan menunya mengulang dari hari pertama. Kabar baiknya, menu diet mayo ini bisa diakali agar ada rasanya, asal tidak ditambahi garam. Bumbu-bumbu lain seperti bawang, bawang bombay, bawang merah, lada putih, lada hitam, cabe dan berbagai macam herba diperbolehkan. Tapi nggak boleh pakai kecap manis atau saus tomat botolan ya. Bahkan mentega pun boleh, asal yang tawar ( unsalted butter ). Untuk sarapannya gampang banget, biasanya secangkir kopi atau teh, dengan 1 sendok teh gula rendah kalori. Saya pakai gula Tropicana Slim. Di hari keempat ada tambahan 1 iris roti bakar. Saya pakai roti gandum utuh ( whole wheat bread ). Sarapan hari kelima agak susah, karena cuma 1 wortel besar mentah yang diparut da...
Anindya (7 tahun) masuk sekolah lagi minggu ini, dimulai hari Senin yang lalu. Menurut aturan DET ( Department of Education and Training ) New South Wales , kami harus mendaftar di sekolah yang paling dekat dengan tempat tinggal. Ini kalau mau sekolah gratis di sekolah negeri loh. Kalau mau sekolah di swasta, silahkan pilih sekolahnya, jauh juga boleh, asal kuat bayarnya. Mengurus surat-surat untuk sekolah dasar di sini tidak terlalu sulit. Pertama, anak usia sekolah (5 - 15 tahun) harus mendapat surat konfirmasi pendaftaran dari DET. Komunikasi dengan DET bisa dilakukan via email (iyalah, hari gini...). Formulir pendaftaran juga bisa diunduh dari website DET . Surat konfirmasi pendaftaran ini adalah salah satu syarat untuk mendapatkan visa. Dulu kami mengurus surat ini ketika masih berada di Indonesia. Persyaratan lainnya adalah sudah membayar uang sekolah sebesar AUD 4500 untuk satu tahun. Ini untuk siswa internasional yang umum. Anindya bisa gratis karena Ayahnya adalah pemegan...
I am a complete idiot on cooking . Ibu saya piawai memasak masakan super lezat. Sayangnya bakat itu tidak 'menurun' ke saya. Kok bisa ibunya pinter masak tapi anaknya gak bisa masak sama sekali? Entahlah. Seingat saya waktu kecil dulu saya juga sering disuruh membantu ibu di dapur. Tapi ibu tidak pernah sabar dengan hasil kerja saya yang lambat dan tidak sempurna. Asal tahu saja, ibu saya sangat cepat dan trengginas dalam bekerja, dengan hasil sempurna. Seringnya, bantuan saya malah menghambat kerja ibu, jadi saya sering diusir dari dapur. Alhasil, saya tidak mewarisi ketrampilan memasak ibu. Tapi saya tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu pintar memasak. Nyatanya adik saya juga berbakat memasak. Dia lebih sukses menjadi apprentice ibu. Sepertinya, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri. Tinggal di negeri orang memaksa saya memasak sendiri. Sehari-hari kami makan makanan Indonesia. Suami saya termasuk orang yang belum kenyang kalau belum makan nasi. Dulu saya sel...
Today is my last day working at this supermarket . I will take a maternity leave for... uhm, maybe forever? Cause I don't know whether I'll come back. I've been working there for a whole year. I remember my first day, I was so nervous that I made a lot of mistakes. I didn't understand most of what people said. I thought those NOT English (at least not clear English as I learnt from school). But I learnt many things from working at a store, especially learnt how to handle a very demanding customer. Aussie people, especially the grumpy old man and woman likes to complain, almost on anything. Sometimes it's annoying but sometimes it's sooo silly. Now I am a more confident person and can handle the most difficult customers. I was promoted to be a supervisor on January. Writing a ticket (price tag) was one of my job as a supervisor. Some friends said I had a beautiful handwriting. Oh really? I told them that back home I'm an author. It's nothing to do with h...
Me with Melina Marchetta herself Novel Looking For Alibrandi adalah teenlit pertama yang saya baca, sekitar tahun 2004 ketika teenlit mulai booming di Indonesia. Novel ini sangat bagus, baik dari segi cerita maupun gaya penulisan. Tokoh utama dalam novel tersebut, Josie Alibrandi adalah gadis pemarah, karakternya ditulis dengan sangat hidup oleh Melina Marchetta (baca: Marketa). Saya langsung jatuh cinta pada novel ini dan pada penulisnya. Novel ini saya jadikan standar novel teenlit yang bagus, sehingga seringkali saya harus kecewa membaca novel-novel teenlit yang lain. Tidak berlebihan kalau kemarin saya senang luar biasa bisa ‘bertemu’ dengan Melina Marchetta herself . Melina merupakan tamu dalam talkshow yang diadakan dalam rangkaian Sydney Writers Festival 2010. Selain Melina, hadir juga David Levithan, penulis novel young adult (teenlit) bertema gay. Talkshow ini dipandu Judith Ridge, jurnalis ABC. Jauh-jauh hari sebelum acara ini saya sudah ‘pesan’ ke suami u...
Di sekolah Anindya, upacara bendera digelar setiap hari Senin dan Jumat. Acaranya singkat dan efisien, tidak sampai 10 menit. Begitu bel berbunyi, anak-anak berlarian menuju halaman sekolah. Mereka membentuk barisan sesuai kelasnya. Tidak perlu lencang kanan-kiri, tapi lumayan rapi. Tiga menit kemudian bel kedua berbunyi. Para guru sudah siap di tempatnya, guru kelas di belakang barisan kelas masing-masing dan guru bidang studi berdiri di depan. Setelah bel kedua, kepala sekolah menghitung 1,2,3 dan anak-anak yang tadinya berdengung seperti kawanan tawon mendadak diam. Begitu juga dengan kumpulan orang tua di belakang mereka. Upacara siap dimulai. Satu wakil siswa menjadi pembawa acara. Satu siswa lain memegang tongkat berbendera. Lagu Advance Australia Fair dikumandangkan dari kaset. Anak-anak ikut bernyanyi dengan keras sementara para orang tua bergumam-gumam. Setelah lagu selesai, kepala sekolah memberikan pengumuman tentang kegiatan yang akan diadakan dalam minggu ini. Termasuk...
Sedih tak berujung. Aduh, apalagi ini? Ceritanya begini, masih ingat kisah bulan Februari lalu, saya titip dibelikan buku-buku dari Indonesia untuk 'tambahan gizi'. Adik saya mengirimkannya lewat sea mail karena biaya mahal untuk paket 4 kg. Ternyata, sampai sekarang, paket lewat laut itu belum sampai ke alamat saya. Sudah lima bulan ya? Minggu kemarin saya minta tolong Adik untuk menanyakan ke kantor pos sana. Katanya sih sudah dikirim dan sampai ke Australia. Hanya saja tidak bisa dicek posisi sebenarnya. Pencarian saya lanjutkan di Pos Australia sini. Saya mengirimkan email komplain lewat website mereka. Ternyata langsung dibalas dan meminta nomor artikel, agar bisa ditelusur jejak paketnya. Saya kirimkan lagi nomor artikel dari pindai kuitansi pengiriman. Ternyata setelah dicek, tidak ada artikel dengan nomor tersebut. Auw, lemaslah saya. Itu buku-buku penting, lezat dan bergizi. Terus sekarang bagaimana dong? Haruskah saya pasrah dan berdoa? A.K. ps: moral of the story: ne...
Mata saya berbinar-binar dan jantung saya berdebar kencang begitu melihat spanduk 'Book Sale'. Marrickville Library Book Sale adalah event tahunan yang selalu kami tunggu-tunggu. Pasar buku seperti ini menjual buku-buku bekas yang tidak diinginkan oleh perpustakaan lagi. Tapi, buku bekas di sini masih bagus-bagus loh, dan tahun terbitnya juga banyak yang masih baru, bukan dari dekade yang lalu. Jangan dibayangkan buku-buku yang sudah menguning atau berdebu. Harganya super murah, bahkan kalau dibandingkan dengan buku-buku baru di Indonesia. Buku anak-anak, fiksi dan non-fiksi hanya 50 sen. Ini termasuk buku-buku ilmu pengetahuan serial Collins Eyewitness dan DK. Ada juga kamus bergambar, ensiklopedia dan tak ketinggalan serial Harry Potter. Buku-buku fiksi untuk dewasa dijual $1 dan buku non fiksinya masing-masing $2. Meskipun super murah, saya hanya membeli buku-buku must have dari pengarang favorit saja: Jodi Picoult, Candace Bushnell, Judy Blume, Enid Blyton, Sophie ...
Comments