di Indo udah ada kok. itu buku lumayan lama, malah seingatku sebelum five people you meet in heaven. kemarin barusan lihat film-nya, produksi Harpo. adaptasinya bagus.
Hari ini ada open house di sekolah Anindya (7 tahun), berikut pameran karya seni dan parents brunch . Acara open house semacam ini memberi kesempatan pada orang tua murid untuk melihat kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu saja kesempatan seperti ini tidak kami lewatkan. Sebelum mengintip ruang kelas, kami melihat-lihat pameran karya seni murid-murid Hampden Park Public School (HPPS). Setiap siswa menampilkan satu karya mereka, entah itu lukisan, kolase, sketsa, gambar atau karya seni rupa yang lain. Tiap kelas mempunyai tema tersendiri. Tema kelas Anindya adalah membuat lukisan vas bunga. Hasil kreativitas anak-anak usia SD ini sungguh mengagumkan. Mereka tidak takut untuk mengeluarkan ide mereka dalam bentuk karya. Beberapa kelas mengambil tema Picasso. Dari tema Picasso saya menjumpai karya sketsa dan kolase yang unik. Mungkin tema Picasso ini cocok untuk anak-anak karena mereka tidak terintimidasi untuk membuat lukisan atau karya yang "indah" dan "sempur...
Enaknya tinggal di Sydney, ada taman bermain di tiap RW-nya. Bukannya ada RW beneran, tapi di tiap blok perumahan pasti ada fasilitas tamannya. Asyiknya, taman-taman ini luas, bersih dan gratis. Ada bermacam-macam taman di sini, antara lain taman bermain (playground), taman untuk berolahraga (ada lapangan olahraganya dong...), taman untuk barbekyu, atau sekedar taman rumput doang. Taman bermain yang paling dekat dengan apartemen kami adalah Hampden Road Reserve, jaraknya 6 menit jalan. Luasnya kira-kira setengah lapangan sepak bola. Di tengah-tengah ada satu set permainan anak-anak: ayunan, perosotan dan anjut-anjutan. Di samping mainan anak-anak, ada satu bidang tanah lapang yang cocok untuk main bulu tangkis (cuman nggak ada tiang untuk net). Taman juga selalu dilengkapi bangku-bangku taman dan pancuran air untuk minum. Tiap sore, taman ini ramai sekali anak-anak bermain, maklumlah pemukiman padat anak. Kalau sudah ramai begini biasanya Anindya ogah bermain, mungkin malas harus menan...
Di Sydney University ada dua macam wisuda: yang beneran dan yang bohong-bohongan. Beruntung Nino bisa mengikuti wisuda yang beneran, asli. Biasanya, international student (siswa yang berasal dari luar Australia, baik yang mendapat beasiswa maupun yang bayar sendiri) langsung pulang kampung begitu studinya selesai. Padahal wisuda baru akan dilaksanakan kurang lebih 9 bulan (atau satu setengah semester setelah masa studi selesai. Karena itu, banyak dari mereka yang tidak dapat mengikuti wisuda (kecuali yang mampu beli tiket pp dari negara asal, khusus untuk menghadiri wisuda). Untuk mengobati kekecewaan para siswa yang tidak bisa mengikuiti wisuda, maka pihak Sydney Uni membuat semacam wisuda bohong-bohongan dengan istilah keren: homecoming seminar . Pada acara ini, para 'lulusan' boleh menyewa toga dan berfoto-foto bersama di Quadrangle (Gedung pusat Sydney Uni). Tak lupa, disediakan kue-kue dan minum-minum. Suami saya menyelesaikan studinya Agustus 2008. Selesai disini b...
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney menjadi tujuan jalan-jalan kami mengawali liburan musim panas kali ini. (baca tiga cerita sebelumnya) Nggak komplet rasanya liburan musim panas tanpa basah-basahan di pantai. Sejak sampai Kiama, Anindya sudah ngebet pengen berenang di pantai. Sayangnya cuaca waktu itu agak mendung dan udara sejuknya masih terlalu dingin untuk main ke pantai. Tambahan lagi suhu air pantai yang masih sedingin es. Di motel tempat kami menginap ada kolam renang kecil berair asin. Meski dingin, Anindya ngotot mengajak berenang. Saya tidak kuasa menolak ajakannya, menemani Anindya masuk kolam sambil menggigil. Untung renangnya nggak berlangsung lama. Kami langsung mandi air hangat begitu selesai. Saya pikir Anindya sudah puas dengan berenang di kolam. Ternyata sorenya dia masih ingin ke pantai. Ini setelah kami bosan bengong duduk memandang pantai dari jendela kamar sambil ngemil rope dan pretzel . Karena Nino masih nyenyak tidur siang, saya bawa anak-ana...
Anindya mogok bicara. Beda dengan saya yang lega karena bisa ngomong tanpa mikir, anak saya malah bingung. Anindya juga langsung ngambek dan masuk kamar kalau kami tertawa-tawa ketika ngobrol menggunakan bahasa Indonesia bercampur Jawa. Dia merasa diabaikan karena tidak mengerti sama sekali apa yang kami bicarakan. Namun pelan-pelan, seiring dengan kosakata yang dia ambil dari sekolah, dia mulai berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Bahasanya masih campur-campur dengan aksen yang aneh, persis Cinta (dibaca: Cinca) Laura. Kami terpaksa menahan senyum kalau mendengar kata-kata ajaibnya. Sekarang Anindya sudah menggunakan bahasa Indonesia secara penuh. Jarang dia berbahasa Inggris kecuali pada Ayahnya. Agar kemampuan bahasa Inggrisnya tidak hilang, Ayahnya membacakan cerita dari buku-buku Enid Blyton sebelum tidur. Kami juga menyemangatinya untuk membaca sendiri buku-buku nya yang berbahasa Inggris. Seminggu belakangan ini Anindya rajin menulis buku harian dalam bahasa Indonesia. Dia m...
Urip mung mampir toto-toto... I am exhausted. One week to go for Nino but we haven't done the packing, not even closer. It's not easy to put all of our belonging in two suitcases. Six months ago we're back for good from Sydney. We sent fifteen boxes (mostly books) via cargo. Until one month ago, those boxes still in the same places as they're delivered from Sydney. When finally we decided to unpack the things to our temporary house, Nino got the news, acceptance from The University of Sydney for his phD. It should be easier for us to pack, as we already knew what to bring, but still... Argh, better get back to work! A.K.
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney, merupakan pilihan kami berakhir pekan di awal liburan musim panas ini. (lihat cerita sebelumnya) Puas melihat-lihat pasar, kami meneruskan jalan-jalan ke Kiama Harbour. Kiama punya pelabuhan kecil untuk berlabuh kapal-kapal penangkap ikan, baik yang komersial maupun sekedar untuk hobi memancing. Masih dengan cuaca mendung dan angin dingin yang sejuk, kami menyusuri jalan di pinggir pelabuhan yang bersih. Mata kami menangkap beberapa burung pelikan berenang dengan anggun, menuju bibir pelabuhan tempat orang-orang bersiap dengan kamera sakunya. Seperti burung-burung lainnya, burung pelikan di sini tidak takut dengan manusia. Maklumlah, di sini tidak ada orang yang 'nekat' menembak atau menangkap burung. Mungkin orang sini akan ngeri kalau berkunjung ke Jogja atau Solo dan mendapati menu burung dara goreng di warung-warung. Asyik rasanya melihat burung-burung bebas berkeliaran di mana-mana. Di taman-taman kota biasanya ada burung dara...
Seminggu ini saya senewen tiap kali menjumpai papan reklame THREE di pinggir jalan. Ya,saya kangen sama yang di Australia. Seperti orang kelaparan merindukan roti, seperti orang Eskimo merindukan musim panas. Ya,anak-anak saya juga rindu Daddy-nya. Kakak dan Adik sakit di hari pertama ditinggal pergi. Sekarang Kakak masih mellow dan sering terisak tiba-tiba. Adik yang baru delapan bulan jadi sering melamun dengan tatapan kosong. Obatnya cuma satu: segera menyusul ke negeri Kanguru itu. AK.
Pada hari ulang tahun Ayesha yang pertama, Nino menyelamati saya karena telah sukses memberi ASI untuk Ayesha selama setahun penuh. Saya memberinya ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan tetap memberi ASI tanpa campuran susu formula sampai sekarang. Tantangan membesarkan anak di sini terasa lebih berat karena tidak ada dukungan dari keluarga dan tidak ada pembantu, namun sisi baiknya adalah dukungan pemberian ASI jauh lebih baik daripada di Indonesia. Di sini, sejak lahir, Ayesha sudah langsung diberikan ke saya untuk disusui. Satu jam pertama, dalam balutan selimut, Ayesha sudah berusaha mencari sendiri puting susu ibunya. Selanjutnya, bayi tetap dirawat dalam satu ruang dengan ibunya. Perawat hanya sesekali datang kalau dibutuhkan, termasuk memberi tahu cara menyusui yang benar. Beda sekali dengan pengalaman saya melahirkan Anindya di Yogyakarta. Setelah melahirkan, setiap sore bayi Anindya dibawa oleh perawat dan baru dikembalikan esok paginya, begitu selama tiga hari s...
Kenalkan sobat baru saya, putih dan cakep, namanya Cak Leno. Mempunyai laptop kecil yang bisa masuk tas tangan adalah impian saya sejak dulu. Sejak pertama kali Asus eee PC masuk Sydney, saya sudah naksir berat. Sayangnya, waktu itu belum jadi beli (baca: belum jadi dibeliin). Tempo hari kami melihat inceran laptop-laptop kecil di High Tech Mall Surabaya, lebih akrab disebut THR. Ada 3 inceran yang harganya setara: HP mini 1000, Asus eee pc dan Lenovo IdeaPad S10. Pilihan kami jatuh pada Cak Leno ini. Sebenarnya saya pengen punya warna pink, tapi Nino 'nggak tega' bawa laptop pink (kalau dia sedang ingin meminjam). Tapi si putih ini udah cakep banget kok. Keyboard nya enak untuk mengetik, meskipun lebih kecil daripada keyboard HP mini, tapi lebih enak daripada punya Asus. Sambungan dengan internet juga oke. Saat ini saya memakai IM2 broom dengan modem Nokia N73. Kadang kalau IM2 nya sedang mogok, saya minjem colok Speedy punya Mama atau Tante. Memang kebutuhan saya ...
Comments