Posts

Showing posts from January, 2009

Cak Leno

Image
Kenalkan sobat baru saya, putih dan cakep, namanya Cak Leno. Mempunyai laptop kecil yang bisa masuk tas tangan adalah impian saya sejak dulu. Sejak pertama kali Asus eee PC masuk Sydney, saya sudah naksir berat. Sayangnya, waktu itu belum jadi beli (baca: belum jadi dibeliin). Tempo hari kami melihat inceran laptop-laptop kecil di High Tech Mall Surabaya, lebih akrab disebut THR. Ada 3 inceran yang harganya setara: HP mini 1000, Asus eee pc dan Lenovo IdeaPad S10. Pilihan kami jatuh pada Cak Leno ini. Sebenarnya saya pengen punya warna pink, tapi Nino 'nggak tega' bawa laptop pink (kalau dia sedang ingin meminjam). Tapi si putih ini udah cakep banget kok. Keyboard nya enak untuk mengetik, meskipun lebih kecil daripada keyboard HP mini, tapi lebih enak daripada punya Asus. Sambungan dengan internet juga oke. Saat ini saya memakai IM2 broom dengan modem Nokia N73. Kadang kalau IM2 nya sedang mogok, saya minjem colok Speedy punya Mama atau Tante. Memang kebutuhan saya

Nomaden

Sejak dulu saya merasa memiliki jiwa petualang. Ya, hanya karena bintang saya Sagitarius. Tapi jiwa saya yang ini jarang diberi makan. Dua puluh tahun pertama dalam hidup saya, saya habiskan di sebuah desa kecil yang jarang tercantum di peta. Selama dua puluh tahun pula, saya berlebaran di tempat yang sama. Untungnya Tuhan mengirimkan lelaki ini untuk mengajak saya melihat dunia. Sembilan tahun sudah hidup saya berpindah-pindah, dari Jogja (kota kesayangan), ke Sidoarjo (kota yang membuat hidup saya merana), lalu ke Malang, Sydney dan Surabaya. Setiap lebaran, kami juga 'wajib' keliling Jawa Tengah: Solo - Semarang - Batang - Pekalongan - Magelang. Saya senang mengunjungi tempat-tempat baru dan menikmati hal baru yang menantang. Tapi kadang jiwa saya lelah. Kadang saya sedih melihat Anindya kesulitan beradaptasi. Kadang saya ingin punya tetangga permanen yang baik hati. Kadang saya malas harus menjalin hubungan dengan orang-orang baru (saya orangnya soliter di dunia nyata).

Kosakata

Saya banyak kehilangan kosakata bahasa Indonesia. Ketika menulis, saya sering tidak menemukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Untuk tetap mengikuti perkembangan bahasa, begitu pulang, saya langsung memborong novel-novel dan membaca dengan rakus. Pertama, saya menamatkan Bilangan Fu. Saya menikmati novel ini sampai kemunculan Ayu Utami dalam novel yang membuat saya ilfil. Kemudian saya membaca Dan Hujan Pun Berhenti,  teenlit 'gelap' yang membuat saya terbata-bata membaca. Novel Amalia 100 Jam dan kumpulan cerpen Ripin cukup menghibur, sementara Istana Kedua Asma Nadia membuat saya gundah gulana. Saya juga membeli obralan Handphone JokPin (ini buku puisi, bukan alat komunikasi) di Jogja, beberapa novel Hamsad Rangkuti dan puisi Gus tf yang belum saya baca. Rectoverso saya baca sekali teguk. Saat ini saya sedang mengunyah Maryamah Karpov. Andrea membuai saya dengan kosakata melayu yang berbuih-buih. A.K.

Becek Nggak Ada Ojek

Image
Anindya mogok bicara. Beda dengan saya yang lega karena bisa ngomong tanpa mikir, anak saya malah bingung. Anindya juga langsung ngambek dan masuk kamar kalau kami tertawa-tawa ketika ngobrol menggunakan bahasa Indonesia bercampur Jawa. Dia merasa diabaikan karena tidak mengerti sama sekali apa yang kami bicarakan. Namun pelan-pelan, seiring dengan kosakata yang dia ambil dari sekolah, dia mulai berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Bahasanya masih campur-campur dengan aksen yang aneh, persis Cinta (dibaca: Cinca) Laura. Kami terpaksa menahan senyum kalau mendengar kata-kata ajaibnya. Sekarang Anindya sudah menggunakan bahasa Indonesia secara penuh. Jarang dia berbahasa Inggris kecuali pada Ayahnya. Agar kemampuan bahasa Inggrisnya tidak hilang, Ayahnya membacakan cerita dari buku-buku Enid Blyton sebelum tidur. Kami juga menyemangatinya untuk membaca sendiri buku-buku nya yang berbahasa Inggris. Seminggu belakangan ini Anindya rajin menulis buku harian dalam bahasa Indonesia. Dia m