Ketika di Indonesia, musuh utama saya adalah toilet umum. Di mana-mana kok nggak ada toilet umum yang bersih, wangi dan gratis. Kecuali di hotel berbintang kali ya... (jarang ke sana). Di Mal besar aja nggak begitu bersih, udah gitu bayar pula. Di bandara internasional, yaa lumayanlah, tapi masih di bawah standar saya. Di kereta? Duh, yang ini saya nggak berani komentar. Di Sydney, toilet umum nya rata-rata lebih bagus daripada toilet saya di apartemen. Bersih, kering, wangi, selalu ada tissuenya dan wastafel dengan sabun cuci tangan. Jadi saya tidak perlu was-was kalau bepergian, tidak perlu menahan-nahan segala. Musuh utama saya di sini adalah tangga stasiun. Perlu diketahui kalau stasiun kereta di sini tidak pernah selevel dengan jalan. Bisa di atas atau di bawah jalan raya, sehingga rel kereta tidak berpotongan langsung dengan jalan. Karena itu selalu ada tangga naik atau turun menuju platform stasiun. Di beberapa stasiun besar atau stasiun baru sudah tersedia fasilitas lift . T...
Rekor baru: dalam dua minggu, saya sudah berkenalan dengan tetangga-tetangga satu apartemen. Lazimnya, orang sini tidak begitu peduli dengan tetangga sebelah. Masing-masing sibuk dengan urusan sendiri. Paling-paling saling tersenyum dan menyapa, " Hi, how are you ," kalau bertemu di depan pintu utama apartemen atau di tempat parkir mobil. Mungkin kalau ketemunya di tempat lain bakalan nggak tahu kalau orang ini tetangga satu apartemen. Dulu saya juga begitu. Ketika tinggal di Dulwich Hill, apartemen kami dibagi menjadi 12 unit. Saya hanya tahu satu orang yang tinggal di atas unit saya, karena dia mempunyai kucing yang kadang ikut masuk kalau saya buka pintu. Di Marrickville, kami tinggal bersama lima orang/keluarga lainnya. Saya lumayan mengenal tetangga sebelah unit persis, suami istri dari Yunani. Grumpy Old Man dan Grumpy Old Woman . Dari dalam apartemen, saya sering mendengar mereka bertengkar, dalam bahasa Yunani, sehingga saya nggak mengerti masalahnya apa. Tetangga ...
Kiama adalah kota kecil sebelah selatan Sydney, bisa dicapai dengan dua jam naik mobil. Minggu lalu, mengawali liburan musim panas, kami sekeluarga jalan-jalan ke Kiama dan sekitarnya, bermobil dan menginap dua malam. Untuk menyenangkan anak-anak, kami singgah dulu ke Jamberoo Action Park, semacam waterbom di Bali atau Jakarta. Jamberoo bisa dicapai sekitar satu setengah jam naik mobil, melewati princess highway ke selatan Sydney. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup lumayan, kami melewati hutan-hutan kecil dengan daun hijau, kuning dan coklat. Sampai di Albion Park kami masuk ke wilayah Jamberoo yang merupakan desa di perbukitan. Rumah-rumah penduduk dikelilingi oleh peternakan mereka. Tampak sapi-sapi gemuk merumput di padang, juga gulungan-gulungan jerami kering. Jarak antar satu rumah dengan rumah yang lain lumayan jauh, sekitar 500 meter atau lebih. Sekitar 15 menit melintasi desa Jamberoo, sampailah kami ke Jamberoo Action Park yang konon merupakan waterpark terbesar di...
Di Sydney University ada dua macam wisuda: yang beneran dan yang bohong-bohongan. Beruntung Nino bisa mengikuti wisuda yang beneran, asli. Biasanya, international student (siswa yang berasal dari luar Australia, baik yang mendapat beasiswa maupun yang bayar sendiri) langsung pulang kampung begitu studinya selesai. Padahal wisuda baru akan dilaksanakan kurang lebih 9 bulan (atau satu setengah semester setelah masa studi selesai. Karena itu, banyak dari mereka yang tidak dapat mengikuti wisuda (kecuali yang mampu beli tiket pp dari negara asal, khusus untuk menghadiri wisuda). Untuk mengobati kekecewaan para siswa yang tidak bisa mengikuiti wisuda, maka pihak Sydney Uni membuat semacam wisuda bohong-bohongan dengan istilah keren: homecoming seminar . Pada acara ini, para 'lulusan' boleh menyewa toga dan berfoto-foto bersama di Quadrangle (Gedung pusat Sydney Uni). Tak lupa, disediakan kue-kue dan minum-minum. Suami saya menyelesaikan studinya Agustus 2008. Selesai disini b...
Sepertinya keren ya kalau ikut pemilu di Luar Negeri? Tadinya saya pikir begitu. Sudah siap-siap dengan kamera poket untuk berfoto-foto. Eh, ternyata batere-nya habis. Duh, batal bergaya deh. Nino dan saya mengikuti contrengan di Campsie, TPS terdekat dari tempat tinggal kami. Tempat yang dipakai contrengan ini adalah gedung serbaguna, mirip ballroom hotel, yang disewa oleh panitia pemilihan luar negeri. Lumayan keren juga TPS-nya, bebas becek (dan tentu saja bebas ojek, hehehe) karena lantainya berkarpet tebal. Bilik suaranya terbuat dari karton tebal (seperti karton bekas kulkas) yang dimodifikasi. Sederhana dan praktis, selesai acara tinggal dilipat dan bisa digunakan lagi di pilpres mendatang. Sebenarnya saya tidak terdaftar pada pemilihan kali ini. Ketika masa-masa pendaftaran dulu, saya masih berada di Surabaya (sementara saya ber-KTP Malang). Mungkin juga saya terdaftar di Malang, ah, tidak tahu persis. Tapi katanya memilih di sini tidak perlu ada dalam daftar pemilih, ...
Ternyata pembagian BLT nggak cuma ada di Indonesia saja. Di Australia sini juga ada, istilahnya stimulus package . Pertama kali saya baca Kevin Rudd mau bagi-bagi uang tunai dari berita ini . Tapi waktu itu saya cuek-cuek saja, karena saya pikir nggak akan kebagian, lha wong saya di sini cuma numpang tinggal, bukan penduduk tetap ( permanent resident ) atau warga negara. Baru setelah saya cek rekening, kok ada tambahan handsome amount of money dari Kang ATO ( Australian Taxation Office ). Rupanya saya dan Nino termasuk golongan pekerja yang berhak mendapatkan BLT ala Aussie ini. Tahun kemarin saya memang sempat kerja di bidang ritel, menjadi supervisor supermarket. Uang pajak yang saya bayarkan tahun lalu inilah yang dikembalikan lagi ke saya. Jumlahnya lumayan. Kalau dihitung-hitung bisa beli beras setengah ton (ehem). Beda sama BLT di Indo yang mungkin cuma cukup untuk makan sepuluh hari. Apa sih sebenarnya tujuan pembagian uang ini? Saya nggak tahu kalau di Indonesia, tapi ...
Kenalkan sobat baru saya, putih dan cakep, namanya Cak Leno. Mempunyai laptop kecil yang bisa masuk tas tangan adalah impian saya sejak dulu. Sejak pertama kali Asus eee PC masuk Sydney, saya sudah naksir berat. Sayangnya, waktu itu belum jadi beli (baca: belum jadi dibeliin). Tempo hari kami melihat inceran laptop-laptop kecil di High Tech Mall Surabaya, lebih akrab disebut THR. Ada 3 inceran yang harganya setara: HP mini 1000, Asus eee pc dan Lenovo IdeaPad S10. Pilihan kami jatuh pada Cak Leno ini. Sebenarnya saya pengen punya warna pink, tapi Nino 'nggak tega' bawa laptop pink (kalau dia sedang ingin meminjam). Tapi si putih ini udah cakep banget kok. Keyboard nya enak untuk mengetik, meskipun lebih kecil daripada keyboard HP mini, tapi lebih enak daripada punya Asus. Sambungan dengan internet juga oke. Saat ini saya memakai IM2 broom dengan modem Nokia N73. Kadang kalau IM2 nya sedang mogok, saya minjem colok Speedy punya Mama atau Tante. Memang kebutuhan saya ...
Closer to lebaran, I realize that I miss Lebaran atmosphere in Indonesia so much. This surprises me as I've never felt homesick before. To be honest, I enjoy living here. I can read as many books as I want. I breathe the fresher air. I eat better food, and I learn so many new things, inc. cooking, not only aussie's but also international meals. However, I really miss the hectic atmosphere of Lebaran, when people rush to get to the hometown, when people do unreasonable lebaran shopping. Here, I just can't feel the atmosphere. I didn't know where to go for Eid Pray, until this afternoon. I hear no takbir. Plain. I did my best to make this lebaran a real lebaran. I did shopping spree for lebaran clothes (ehem, it's an excuse to buy new clothes actually, hehehe, but it worked). I cooked ketupat (not in coconut leaves, but in polyethylene plastics), gulai and cucumber pickles. Nino asked me, "Why bother?" Well, I just wanted to. I just wanted this to be speci...
Di Australia, hari ibu diperingati setiap minggu kedua bulan Mei. Hari Minggu yang lalu, Anindya bangun pagi-pagi untuk memberi kejutan hari ibu untuk saya. Saya mendapat kartu di dalam piring kertas cantik dan magnetic note untuk ditempel di kulkas. Wah, cocok sekali dengan profesi saya sekarang sebagai penulis daftar belanja mingguan, hehehe. Anindya membuat kartu dan membeli hadiah ini di sekolah. Kartunya berbunyi seperti ini: " Dear Mum. Thak you for yor help. I want to have a caravan do you mum? I like what you treat me. I have a give for you in the box ." Soooo sweet I wanna cry. Oh, about the caravan, I'll tell you later . Di sini, perayaan hari ibu lebih personal. Setiap orang mengucapkan selamat hari ibu dan memberi hadiah kepada ibu masing-masing. Tradisi memberi hadiah kepada ibu di hari ibu ini seperti tradisi memberi hadiah natal. Bisa ditebak, toko-toko di Mal berlomba memberi diskon dan harga spesial untuk produk-produk wanita. Begitu juga toko bung...
Comments