Kami beruntung pas liburan di Indonesia ketika film Dua Garis Biru ini tayang di bioskop. Saya pengen nonton film debut Gina S. Noer sebagai sutradara ini karena temanya sangat menarik, yaitu tentang teen pregnancy, sudah ketebak dari judulnya ya. Big A (anak sulung saya, cewek usia 17 tahun) pun pengen nonton, karena dia nge-fans sama Zara JKT48. Jadi lah akhir pekan kemarin kami berdua nonton bareng, dan… mewek bareng. Sebelum film ini tayang, saya mbatin, “Wah, Gina ini pemberani banget, milih topik sensitif begini.” Dan sudah diduga kalau ada penolakan sana-sini, oleh orang yang… belum nonton filmnya. Sebenarnya, kalau mau mikir dikit aja, ya mana mungkin sutradara film ini, yang juga seorang ibu dari dua anak, mau mempromosikan seks bebas. Woi, yang benar aja. Kita nih sebagai orang tua, sebenarnya punya kekhawatiran yang sama akan pergaulan bebas anak-anak remaja. Bedanya, kelompok yang satu menutup akses pengetahuan akan pendidikan seks, dan malah berupaya melegalka...
Comments
^_
Well, I don't like the aftermath part, named his boy as Albus Severus? C'mon...
But it's a children book, anyway. Happy ending like a fairy tale ending is necessary to make everybody happy.