di Indo udah ada kok. itu buku lumayan lama, malah seingatku sebelum five people you meet in heaven. kemarin barusan lihat film-nya, produksi Harpo. adaptasinya bagus.
Makan siang Diet Mayo hari pertama Beneran nih mau nyoba diet mayo? Sudah baca pengalaman saya di sini kan? Nggak usah takut, dietnya nggak nyiksa-nyiksa banget kok, seenggaknya buat saya. Menu diet mayo sudah ditentukan untuk 13 hari. Ada menu sampai hari ketujuh, lalu hari kedelapan menunya mengulang dari hari pertama. Kabar baiknya, menu diet mayo ini bisa diakali agar ada rasanya, asal tidak ditambahi garam. Bumbu-bumbu lain seperti bawang, bawang bombay, bawang merah, lada putih, lada hitam, cabe dan berbagai macam herba diperbolehkan. Tapi nggak boleh pakai kecap manis atau saus tomat botolan ya. Bahkan mentega pun boleh, asal yang tawar ( unsalted butter ). Untuk sarapannya gampang banget, biasanya secangkir kopi atau teh, dengan 1 sendok teh gula rendah kalori. Saya pakai gula Tropicana Slim. Di hari keempat ada tambahan 1 iris roti bakar. Saya pakai roti gandum utuh ( whole wheat bread ). Sarapan hari kelima agak susah, karena cuma 1 wortel besar mentah yang diparut da...
Ibu saya tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 2, cuma bisa baca tulis dan berhitung. Ketika remaja, Ibu menjadi pelayan toko kain. Selama itu, beliau menabung gajinya dengan membeli emas. Setelah menikah dengan Bapak (katanya sih lulus SD, tapi kami tidak pernah melihat ijazahnya), Ibu menjual emasnya untuk modal buka toko. Bapak menjahit dan Ibu berjualan alat-alat jahit seperti benang, kancing, jarum. Keluarga kami hi dup sederhana. Kami tinggal di kios satu lantai. Saya tidur di kasur busa tipis yang digelar ketika toko sudah tutup. Kami tidak punya TV, kalau ada acara menarik (misalnya ketoprak TVRI), kami harus menonton di TV tetangga. Benda-benda mewah seperti kulkas dan sambungan telepon baru kami punya setelah saya lulus SMP.
Setiap orang punya kelemahan. Saya: terobsesi dengan liburan. He-who-can-not-be-named-in-this-blog has his ideal holiday like this: napping in his old bedroom after eating Rawon and Sambel Tempe Penyet, and then having afternoon tea with Mama and Bapak in their cozy dining room. Nice. I love that too (except that I don't eat Rawon). It just that I have my very own version of perfect holiday. Versi saya: mengunjungi satu tempat baru (lebih sip lagi kalau negara baru), menginap di hotel ( preferably beach front ), makan enak tanpa harus memasak, dan leyeh-leyeh sementara anak-anak bermain sendiri (atau sama Bapaknya, hehehe). Begitulah, awal tahun 2009, cita-cita saya dan dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya datang ke Sydney sama sekali berbeda. Dia kembali untuk mengejar phDnya, sementara saya kembali melunasi 'utang' jalan-jalan di Aussie. Pada masa-masa prihatin dua tahun pertama kami tinggal di Sydney, praktis kami belum pernah ke mana-mana di luar Sydney. Pali...
I take a (paid) leave this week. The employment system here is generous enough to give you a paid leave for a month every year, if you work fulltime. Whether you take it or not, you still get paid. They call it holidays. Usually my fellow workers (most of them migrants) will fly to their countries for holidays. But (sadly) not for me. I take it because my husband would go to US for a conference. It's babysitting my daughter, not a 'real' holiday. Still I'm excited with this 'holiday'. I don't have to catch a train every morning, I don't have to be sandwiched with tall and big bules in that sardines-package train. My feet will free from 4 hours standing in the register. Oh, what a luxury. "Don't you think you will need a part-time husband, a casual one, Marla?" one of my friend joked. "Hahaha, no, no, no. I think I can manage that." I will make myself busy with things that I couldn't do when I work fulltime, such as: 1. ta...
Tahun lalu buku-buku yang dibaca Lil A (10 tahun) tidak banyak. Aku maklum karena fokus kami tahun lalu adalah perkembangan bahasa Jermannya. Juga, dia sedang di usia nanggung. Interest-nya ke buku anak-anak berkurang, sementara untuk cerita di buku remaja belum nyandak. Selain bacaan pendek dari buku pelajaran bahasa Jerman, Lil A juga bisa membaca satu buku novel anak berbahasa Jerman, dengan ilustrasi, saya belikan ketika bertemu penulisnya di Frankfurt Book Fai r. Selain itu dia baca Dork Diary terbaru dalam bahasa Inggris. Buku Good Night Stories for Rebel Girls belum selesai dia baca. Beberapa hari ini, kami sekeluarga nonton Crash Course: History of The World dari You Tube, setiap selesai makan malam. Host-nya John Green. Big A sudah khatam nonton seri ini, dan ingin berbagi dengan Lil A dan ortunya. Ketika saya nyeletuk memuji kecerdasan John Green dan buku-bukunya, Lil A kaget kalau ternyata dia seorang penulis. Nah... kesempatan untuk ngiming-imingi Lil A untuk memb...
Sabtu kemaren, Nino meminjami aku Catatan Seorang Demonstran-nya Soe Hok Gie (dia pinjem dari Tante Ria). Whoa, kebeneran banget. Aku lagi gak punya bacaan (setelah selesai membaca Harpot, bacaanku cuma Kompas, Reader Digest dan majalah wanita ‘enggak penting’). Membaca diary Gie membawaku membuat my own film about him. Bukan ngebayangin Nico di film-nya Riri. Aku bisa menangkap jiwa Gie dari tulisan2nya, kegelisahannya, kesendiriannya dan semangatnya. Hem, tentang buku ini diterusin ntar aja, di posting berikutnya, kalok aku udah selesai bacanya. Karena baca Gie, aku jadi punya bahan diskusi dengan Nino. Malam minggu itu kami menghabiskan malam di de Juice bar Matos, jaga stand. Nino sendiri sudah baca CSD Gie sejak dia SMA (bayangin aja, waktu aku SMA, bacaanku cuma HAI). Dia juga sudah baca diary-nya Ahmad Wahib, sejak dia SMA. Ahmad Wahib itu seangkatan Hok Gie juga. Dia mahasiswa angkatan 70-an gitu, punya pemikiran kritis dan mati muda (dengan cara yang konyol: ditabrak pengend...
Lamington is a traditional Aussie cake that they love so much. It is like a sponge cake, coated with chocolate (or lemon) icing and desiccated coconut. At first glance, I thought it was like wajik or jadah (our beloved traditional cake from sticky rice). But then I was wrong. Come on, Aussie would not bother with sticky rice. This cake becomes a symbol of Aussie. At Australian Day, January 26th, which is also Nindipong's birthday, they decorated lamington with green and yellow icing. I don't know where the 'green and yellow' come from, as their national flag is blue and red (look at Nindi's tatto at her right hand). But they use green and yellow as their sport team uniform, as in cricket, soccer and football. A.K.
Oh, sh*t! I've been to a river cruise, a birthday party, an eating out with British friends, a Pakistani wedding since the promise, and no single blog post from me? I am a bullsh*t. Lemme explain. A big idea hijacked my mind since then and I couldn't let it go. So I did what necessary to make it happened. I need a lot of time to study new things in totally different language. This is tiring, complicated but making me happy. It's just like falling in love with a new guy. No worries, Hubby, this is NOT a new guy, just a new BIG IDEA. I can't tell you what it is now. Give me a month to deliver. I hope everything running smoothly. Wish me luck! Write to you soon. Double promise now. *grin* A.K.
Sampah daur ulang. Abaikan merk :p Saya belajar memilah sampah ketika tinggal di Sydney, tahun 2006. Nggak sukarela sih belajarnya. Pemkot sana mewajibkan setiap rumah tangga (penghuni rumah atau apartemen) untuk memilah sampah yang bisa didaur ulang. Sampah biasa ditaruh di tong sampah dengan tutup merah, sementara sampah yang bisa didaur ulang dibuang di tong sampah bertutup kuning. Tong merah diangkut truk sampah seminggu sekali, sementara tong kuning dikosongkan setiap dua minggu sekali. Pemkot mengkampanyekan dengan jelas apa yang bisa didaur ulang, termasuk kardus, botol beling, botol plastik, dll. Kalau ada barang-barang yang sebenarnya tidak bisa didaur ulang tapi dimasukkan ke tong kuning-misalnya tas kresek-tukang sampah tidak akan mau mengangkut sampah kita. Jadi yaa... terpaksa belajar. Lama-lama kami sekeluarga jadi terbiasa memilah sampah. Rasanya kok eman (sayang) kalau benda yang masih bisa dipakai hanya berakhir di TPA. Setelah pulang ke Surabaya,...
Enaknya tinggal di Sydney, ada taman bermain di tiap RW-nya. Bukannya ada RW beneran, tapi di tiap blok perumahan pasti ada fasilitas tamannya. Asyiknya, taman-taman ini luas, bersih dan gratis. Ada bermacam-macam taman di sini, antara lain taman bermain (playground), taman untuk berolahraga (ada lapangan olahraganya dong...), taman untuk barbekyu, atau sekedar taman rumput doang. Taman bermain yang paling dekat dengan apartemen kami adalah Hampden Road Reserve, jaraknya 6 menit jalan. Luasnya kira-kira setengah lapangan sepak bola. Di tengah-tengah ada satu set permainan anak-anak: ayunan, perosotan dan anjut-anjutan. Di samping mainan anak-anak, ada satu bidang tanah lapang yang cocok untuk main bulu tangkis (cuman nggak ada tiang untuk net). Taman juga selalu dilengkapi bangku-bangku taman dan pancuran air untuk minum. Tiap sore, taman ini ramai sekali anak-anak bermain, maklumlah pemukiman padat anak. Kalau sudah ramai begini biasanya Anindya ogah bermain, mungkin malas harus menan...
Comments