di Indo udah ada kok. itu buku lumayan lama, malah seingatku sebelum five people you meet in heaven. kemarin barusan lihat film-nya, produksi Harpo. adaptasinya bagus.
A perfect birthday morning: 1. a birthday kiss from him 2. a hot cuppa 3. homemade (w/ instant spices) nasi kuning 4. a perfect gift from my wish lists (sure I had to give him a clue, or I'll get another book, hehehe...) A.K.
Ternyata pembagian BLT nggak cuma ada di Indonesia saja. Di Australia sini juga ada, istilahnya stimulus package . Pertama kali saya baca Kevin Rudd mau bagi-bagi uang tunai dari berita ini . Tapi waktu itu saya cuek-cuek saja, karena saya pikir nggak akan kebagian, lha wong saya di sini cuma numpang tinggal, bukan penduduk tetap ( permanent resident ) atau warga negara. Baru setelah saya cek rekening, kok ada tambahan handsome amount of money dari Kang ATO ( Australian Taxation Office ). Rupanya saya dan Nino termasuk golongan pekerja yang berhak mendapatkan BLT ala Aussie ini. Tahun kemarin saya memang sempat kerja di bidang ritel, menjadi supervisor supermarket. Uang pajak yang saya bayarkan tahun lalu inilah yang dikembalikan lagi ke saya. Jumlahnya lumayan. Kalau dihitung-hitung bisa beli beras setengah ton (ehem). Beda sama BLT di Indo yang mungkin cuma cukup untuk makan sepuluh hari. Apa sih sebenarnya tujuan pembagian uang ini? Saya nggak tahu kalau di Indonesia, tapi ...
Tinggal di Sydney membuat saya kekurangan suplai bacaan bergizi, terutama novel-novel Indonesia terbaru. Memang sih, di sini saya bisa membaca novel-novel berbahasa Inggris terbaru. Tinggal pinjam di perpus, gratis. Saya mudah mendapatkan novel Stephenie Meyer setelah Twilight, buku fairytale terbaru JK Rowling, novel Gossip Girl dan lanjutannya: IT Girl. Saya juga punya koleksi diary Adrian Mole, Jodi Picoult dan Judy Blume. Saking banyaknya buku dan sedikitnya waktu, buku-buku dari perpus hanya numpang lewat saja di rak buku saya, mabuk pinjam dan dikembalikan lagi setelah tiga minggu. Bahkan saking kemaruknya saya pernah bawa pulang My Sister Keeper dari perpus, padahal saya sudah punya bukunya di rumah (hasil berburu dari Book Sale). Asyiknya, saya bisa 'belajar' bercerita dari novel-novel itu. Saya suka sekali gaya cerita Cecily von Ziegesar, penulis serial Gossip Girl (diterjemahkan nggak ya di Indo?). Ceritanya nakal sekali, tapi penulisnya pintar bertutur, membuat pemb...
Ketika di Indonesia, musuh utama saya adalah toilet umum. Di mana-mana kok nggak ada toilet umum yang bersih, wangi dan gratis. Kecuali di hotel berbintang kali ya... (jarang ke sana). Di Mal besar aja nggak begitu bersih, udah gitu bayar pula. Di bandara internasional, yaa lumayanlah, tapi masih di bawah standar saya. Di kereta? Duh, yang ini saya nggak berani komentar. Di Sydney, toilet umum nya rata-rata lebih bagus daripada toilet saya di apartemen. Bersih, kering, wangi, selalu ada tissuenya dan wastafel dengan sabun cuci tangan. Jadi saya tidak perlu was-was kalau bepergian, tidak perlu menahan-nahan segala. Musuh utama saya di sini adalah tangga stasiun. Perlu diketahui kalau stasiun kereta di sini tidak pernah selevel dengan jalan. Bisa di atas atau di bawah jalan raya, sehingga rel kereta tidak berpotongan langsung dengan jalan. Karena itu selalu ada tangga naik atau turun menuju platform stasiun. Di beberapa stasiun besar atau stasiun baru sudah tersedia fasilitas lift . T...
I spent a week reading "Buku Memasak Untuk Orang Bodoh", practically to improve my knowledge of cooking. But you can't improve your cooking skill unless you go to the kitchen and doing some 'dirty job'. That book can only improve my reading skill, in English. Two days ago, Nino and I tried a recipe: Chicken Wings with Oyster Sauce. It's a simple recipe (that's why we dared to try). We, however, still had an argument on one of the spice. We didn't know what 'spring onion' was. First, I tought it was bawang bombay. Nino thought it was bawang merah. But in the recipe picture, it looks like prey/daun bawang. I looked it up in my "Buku Bodoh", but it didn't help. Desperately, Nino said, "Oh, for someone didn't know what spring onion was, he did'nt have a hope in cooking." Finally, we put bawang merah and prey to our chicken. And it was not bad. Yesterday, I tried to make spring rolls, snacks for breakfasting. I put ve...
Tadinya saya iseng ikut lomba Blog Writing Competition yang diadakan oleh Garuda Lovers Community . Saya sudah posting tulisan ini sebelum saya tahu ada lomba tersebut. Makanya, begitu tahu ada lomba, saya ikutkan saja tulisannya, kebetulan temanya cocok banget. Tadi barusan di-email Mama, katanya dapat surat ( yes, snail mail ) dari Garuda (dikirim ke alamat rumah di Malang), blog-ku menang juara dua. Hadiahnya tiket Garuda Jakarta - Balikpapan pp. Sayangnya, tiket ini tidak bisa dialihkan atau dijual. Waduh, sama juga bohong ya. Masak saya harus balik dulu ke Jakarta untuk bisa menikmati gratisan ke Balikpapan. Lagian, ngapain ke sana? Coba kalau hadiah bisa dialihkan atau ditukar, kan tidak terbuang sia-sia. Terus, kok bisa menang ya? Saya sendiri juga heran. Padahal saya nulisnya nggak bagus-bagusin Garuda loh. Atau mungkin karena saya jujur dan apa adanya ya? Hehehe. Masih nggak percaya nih, secara saya belum melihat dengan mata kepala sendiri bahwa saya menang lomba. Barusa...
Di Sydney dilarang tersesat. Di Indonesia sih gampang, kalau tersesat tinggal tanya penjual teh botol di pinggir jalan, atau tanya tukang tambal ban. Di sini, kalau nggak tahu jalan ya nggak bakalan bisa pulang. Kalau maksa nanya sama orang paling jawabannya, " Dunno Mate ." Itu sebabnya semua orang wajib memiliki peta jalan. Kalau ingin peta jalan yang komplit ya harus punya buku setebal buku telepon itu. Di sini, peta jalan diterbitkan dan diperbarui setiap tahun, jadi kalau ada pembangunan jalan atau fasilitas baru, langsung ketahuan di peta. Beda dengan peta jalan Surabaya terbitan Periplus tahun 2007 yang saya gunakan dulu. Nggak sama antara peta dan kenyataan. Kami pernah mencari alamat dengan menyusuri jalan di daerah Barata Jaya, eh, tiba-tiba jalannya menghilang, padahal di peta masih ada. Hem, salah strategi deh. Di Surabaya memang lebih manjur tanya tukang tambal ban daripada baca peta. Kalau males (atau nggak bisa) baca peta, bisa numpang tanya sama O...
Kenalkan sobat baru saya, putih dan cakep, namanya Cak Leno. Mempunyai laptop kecil yang bisa masuk tas tangan adalah impian saya sejak dulu. Sejak pertama kali Asus eee PC masuk Sydney, saya sudah naksir berat. Sayangnya, waktu itu belum jadi beli (baca: belum jadi dibeliin). Tempo hari kami melihat inceran laptop-laptop kecil di High Tech Mall Surabaya, lebih akrab disebut THR. Ada 3 inceran yang harganya setara: HP mini 1000, Asus eee pc dan Lenovo IdeaPad S10. Pilihan kami jatuh pada Cak Leno ini. Sebenarnya saya pengen punya warna pink, tapi Nino 'nggak tega' bawa laptop pink (kalau dia sedang ingin meminjam). Tapi si putih ini udah cakep banget kok. Keyboard nya enak untuk mengetik, meskipun lebih kecil daripada keyboard HP mini, tapi lebih enak daripada punya Asus. Sambungan dengan internet juga oke. Saat ini saya memakai IM2 broom dengan modem Nokia N73. Kadang kalau IM2 nya sedang mogok, saya minjem colok Speedy punya Mama atau Tante. Memang kebutuhan saya ...
Kembali ke Australia rasanya kok kayak pulang kampung aja. No surprise, no more excitement . Semua masih seperti enam bulan yang lalu ketika kami kembali ke Indonesia. Mulai menginjakkan kaki di bandara, saya sudah tahu mau menuju kemana. Melewati petugas imigrasi, saya juga kalem-kalem aja, bahkan saya kepedean menyapa mereka duluan. Bandingkan dengan waktu pertama kali saya ke Australia, deg-deg-an terus bawaannya. Takut enggak ngerti mereka ngomong apa. Padahal toefl saya lumayan loh... cuma tingkat percaya diri saya saja yang rendah. Maklum, saya ini memang soliter di dunia nyata. Nino was as handsome as ever. We hugged and kissed and went home by taxi. Tempat tinggal kami juga seperti yang saya bayangkan. Harga barang-barang di sini juga belum naik (ugh, jangan sampai). Susu cair satu liter masih $1.09, sayap ayam mentah satu kilo masih $2.60, tempe satu kotak juga masih $2.50, teh kotak 200 mL $1.10. Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge juga masih semegah sebelumnya. ...
I take a (paid) leave this week. The employment system here is generous enough to give you a paid leave for a month every year, if you work fulltime. Whether you take it or not, you still get paid. They call it holidays. Usually my fellow workers (most of them migrants) will fly to their countries for holidays. But (sadly) not for me. I take it because my husband would go to US for a conference. It's babysitting my daughter, not a 'real' holiday. Still I'm excited with this 'holiday'. I don't have to catch a train every morning, I don't have to be sandwiched with tall and big bules in that sardines-package train. My feet will free from 4 hours standing in the register. Oh, what a luxury. "Don't you think you will need a part-time husband, a casual one, Marla?" one of my friend joked. "Hahaha, no, no, no. I think I can manage that." I will make myself busy with things that I couldn't do when I work fulltime, such as: 1. ta...
Comments