Posts

Showing posts with the label journey

Tahun Yang Penuh Dengan (Rencana) Liburan

Image
Setiap orang punya kelemahan. Saya: terobsesi dengan liburan. He-who-can-not-be-named-in-this-blog has his ideal holiday like this: napping in his old bedroom after eating Rawon and Sambel Tempe Penyet, and then having afternoon tea with Mama and Bapak in their cozy dining room. Nice. I love that too (except that I don't eat Rawon). It just that I have my very own version of perfect holiday. Versi saya: mengunjungi satu tempat baru (lebih sip lagi kalau negara baru), menginap di hotel ( preferably beach front ), makan enak tanpa harus memasak, dan leyeh-leyeh sementara anak-anak bermain sendiri (atau sama Bapaknya, hehehe).  Begitulah, awal tahun 2009, cita-cita saya dan dia-yang-tidak-boleh-disebut-namanya datang ke Sydney sama sekali berbeda. Dia kembali untuk mengejar phDnya, sementara saya kembali melunasi 'utang' jalan-jalan di Aussie. Pada masa-masa prihatin dua tahun pertama kami tinggal di Sydney, praktis kami belum pernah ke mana-mana di luar Sydney. Pali...

[Berakhir Pekan di Kiama] Pantai dan Pantai Lagi

Image
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney menjadi tujuan jalan-jalan kami mengawali liburan musim panas kali ini. (baca tiga cerita sebelumnya) Nggak komplet rasanya liburan musim panas tanpa basah-basahan di pantai. Sejak sampai Kiama, Anindya sudah ngebet pengen berenang di pantai. Sayangnya cuaca waktu itu agak mendung dan udara sejuknya masih terlalu dingin untuk main ke pantai. Tambahan lagi suhu air pantai yang masih sedingin es.  Di motel tempat kami menginap ada kolam renang kecil berair asin. Meski dingin, Anindya ngotot mengajak berenang. Saya tidak kuasa menolak ajakannya, menemani Anindya masuk kolam sambil menggigil. Untung renangnya nggak berlangsung lama. Kami langsung mandi air hangat begitu selesai. Saya pikir Anindya sudah puas dengan berenang di kolam. Ternyata sorenya dia masih ingin ke pantai. Ini setelah kami bosan bengong duduk memandang pantai dari jendela kamar sambil ngemil rope dan pretzel . Karena Nino masih nyenyak tidur siang, saya bawa anak-ana...

[Berakhir Pekan di Kiama] Burung Pelikan dan Mercusuar

Image
Kiama, kota kecil di sebelah selatan Sydney, merupakan pilihan kami berakhir pekan di awal liburan musim panas ini. (lihat cerita sebelumnya) Puas melihat-lihat pasar, kami meneruskan jalan-jalan ke Kiama Harbour. Kiama punya pelabuhan kecil untuk berlabuh kapal-kapal penangkap ikan, baik yang komersial maupun sekedar untuk hobi memancing. Masih dengan cuaca mendung dan angin dingin yang sejuk, kami menyusuri jalan di pinggir pelabuhan yang bersih. Mata kami menangkap beberapa burung pelikan berenang dengan anggun, menuju bibir pelabuhan tempat orang-orang bersiap dengan kamera sakunya. Seperti burung-burung lainnya, burung pelikan di sini tidak takut dengan manusia. Maklumlah, di sini tidak ada orang yang 'nekat' menembak atau menangkap burung. Mungkin orang sini akan ngeri kalau berkunjung ke Jogja atau Solo dan mendapati menu burung dara goreng di warung-warung. Asyik rasanya melihat burung-burung bebas berkeliaran di mana-mana. Di taman-taman kota biasanya ada burung dara...

[Berakhir Pekan di Kiama] Pasar Minggu

Image
Mengawali liburan musim panas, kami sekeluarga mengunjungi Kiama, dua jam bermobil dari Sydney ke arah selatan. (lihat cerita sebelumnya) Kami menginap dua malam di motel. Motel Kiama Cove, tempat kami menginap, lokasinya lumayan strategis, dekat sekali dengan pusat kota, tinggal jalan ke pusat atraksi wisata di Kiama, dan lebih asyik lagi, pantai terdekat tepat di belakang motel kami. Sekilas dilihat dari luar, bangunan motel ini mirip kamar-kamar kos di Jogja. Memang bangunannya tidak begitu menarik, kamarnya juga seperti penginapan biasa. Tapi motel ini bersih, bisa muat dua anak dalam sekamar (dengan tambahan portable cot ), dan harganya relatif murah. Kami bayar $139 per malam termasuk sarapan pagi yang cukup untuk sekeluarga. Jangan dihitung dalam rupiah, jatuhnya tetap mahal. Harga segini jauh lebih murah daripada motel/hotel/ inn yang lain. Dari jendela kamar yang besar (dari atap sampai lantai) kami bisa memandang Surf Beach . Sayangnya di sebelah kiri ada b...

[Berakhir Pekan di Kiama] Jamberoo Action Park

Image
Kiama adalah kota kecil sebelah selatan Sydney, bisa dicapai dengan dua jam naik mobil. Minggu lalu, mengawali liburan musim panas, kami sekeluarga jalan-jalan ke Kiama dan sekitarnya, bermobil dan menginap dua malam. Untuk menyenangkan anak-anak, kami singgah dulu ke Jamberoo Action Park, semacam waterbom di Bali atau Jakarta. Jamberoo bisa dicapai sekitar satu setengah jam naik mobil, melewati princess highway ke selatan Sydney. Pemandangan sepanjang perjalanan cukup lumayan, kami melewati hutan-hutan kecil dengan daun hijau, kuning dan coklat. Sampai di Albion Park kami masuk ke wilayah Jamberoo yang merupakan desa di perbukitan. Rumah-rumah penduduk dikelilingi oleh peternakan mereka. Tampak sapi-sapi gemuk merumput di padang, juga gulungan-gulungan jerami kering. Jarak antar satu rumah dengan rumah yang lain lumayan jauh, sekitar 500 meter atau lebih. Sekitar 15 menit melintasi desa Jamberoo, sampailah kami ke Jamberoo Action Park yang konon merupakan waterpark terbesar di...

Numpang Tanya

Image
Di Sydney dilarang tersesat. Di Indonesia sih gampang, kalau tersesat tinggal tanya penjual teh botol di pinggir jalan, atau tanya tukang tambal ban. Di sini, kalau nggak tahu jalan ya nggak bakalan bisa pulang. Kalau maksa nanya sama orang paling jawabannya, " Dunno Mate ." Itu sebabnya semua orang wajib memiliki peta jalan. Kalau ingin peta jalan yang komplit ya harus punya buku setebal buku telepon itu. Di sini, peta jalan diterbitkan dan diperbarui setiap tahun, jadi kalau ada pembangunan jalan atau fasilitas baru, langsung ketahuan di peta. Beda dengan peta jalan Surabaya terbitan Periplus tahun 2007 yang saya gunakan dulu. Nggak sama antara peta dan kenyataan. Kami pernah mencari alamat dengan menyusuri jalan di daerah Barata Jaya, eh, tiba-tiba jalannya menghilang, padahal di peta masih ada. Hem, salah strategi deh. Di Surabaya memang lebih manjur tanya tukang tambal ban daripada baca peta. Kalau males (atau nggak bisa) baca peta, bisa numpang tanya sama O...

Jalan Kaki

Tinggal di Sydney membuat saya jadi banyak jalan-jalan. Literally . Di sini memang nggak ada becak, ojek atau sepeda motor. Kemana-mana harus jalan kaki, kecuali kalau Anda punya mobil dan sanggup membayar biaya parkir yang mahal. Dulu, pertama kali datang ke Sydney, sempat lunglai juga harus jalan kaki ke mana-mana. Duh, bangun pagi kaki langsung pegel-pegel. Terlanjur hidup manja di Indonesia sih, belanja ke warung sebelah naik motor, nganterin anak sekolah naik mobil. Jalan-jalannya di Mal doang. Tapi ya maklum, siapa yang mau jalan kaki di Indonesia? Trotoarnya saja nggak ada. Kalaupun ada, sudah keburu diduduki sama pedagang kaki lima. Belum lagi bonus asap kendaraan dan debu jalanan. Sekarang sih saya sudah terbiasa jalan kaki. Kecepatan jalan saya juga sudah menyamai orang-orang sini (Bangladesh, Lebanon, hehehe...). Kalau Anda menanyakan jarak di sini, biasanya dijawab dengan berapa menit jalan atau berapa menit naik mobil. Misalnya apartemen saya yang jaraknya 15 jalan d...

No Surprise

Image
Kembali ke Australia rasanya kok kayak pulang kampung aja. No surprise, no more excitement . Semua masih seperti enam bulan yang lalu ketika kami kembali ke Indonesia. Mulai menginjakkan kaki di bandara, saya sudah tahu mau menuju kemana. Melewati petugas imigrasi, saya juga kalem-kalem aja, bahkan saya kepedean menyapa mereka duluan. Bandingkan dengan waktu pertama kali saya ke Australia, deg-deg-an terus bawaannya. Takut enggak ngerti mereka ngomong apa. Padahal toefl saya lumayan loh... cuma tingkat percaya diri saya saja yang rendah. Maklum, saya ini memang soliter di dunia nyata. Nino was as handsome as ever. We hugged and kissed and went home by taxi. Tempat tinggal kami juga seperti yang saya bayangkan. Harga barang-barang di sini juga belum naik (ugh, jangan sampai). Susu cair satu liter masih $1.09, sayap ayam mentah satu kilo masih $2.60, tempe satu kotak juga masih $2.50, teh kotak 200 mL $1.10. Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge juga masih semegah sebelumnya. ...

Naik Garuda

Image
Entah kenapa Anindya (7 tahun) ngotot meminta kami naik Garuda untuk terbang ke Sydney. Tentu saja bukan karena nasionalisme. Kalau saya sih punya paham 'ngiritisme' alias naik apa saja asal murah (untuk penerbangan luar negeri-nya loh. untuk dalam negeri saya kok ngeri kalau naik yang murah-murah, takut 'terpeleset'). Selidik punya selidik, ternyata Anindya ingin punya mainan dari Garuda. Dulu, enam bulan lalu, ketika kami terbang dari Sydney, mainan Anindya tertinggal di pesawat, dan dia sedih sekali. Untungnya tiket Garuda tidak terlalu mahal. Coba kalau Anindya ngotot naik Singapore Airlines, bisa bangkrut saya. Tiket Jogja - Denpasar - Sydney sekali jalan untuk dewasa US$ 369, anak US$ 295 dan bayi US$ 229. Total US$ 893. Dengan kurs 1 US$ = Rp 12.170, harga segitu memaksa saya menguras tabungan. Bandingkan dengan harga tiket sekali jalan Nino yang naik Jetstar dari Denpasar ke Sydney, dengan 'bonus' mampir di Darwin, sebesar US$ 286, atau tiket ortu ...

Pack, Unpack, Repack

Urip mung mampir toto-toto... I am exhausted. One week to go for Nino but we haven't done the packing, not even closer. It's not easy to put all of our belonging in two suitcases. Six months ago we're back for good from Sydney. We sent fifteen boxes (mostly books) via cargo. Until one month ago, those boxes still in the same places as they're delivered from Sydney. When finally we decided to unpack the things to our temporary house, Nino got the news, acceptance from The University of Sydney for his phD. It should be easier for us to pack, as we already knew what to bring, but still... Argh, better get back to work! A.K.

Is it hot in here, or is it just me?

We were home, at last. It was not a long flight, Sydney-Denpasar only took 6 and half hours. But it was three thousand dollars away. That's way we never gone home for these last two years. We're welcomed by the heat in Denpasar. The air conditioner in Ngurah Rai airport was not working, really bad for an international airport. It was 30 celcius degrees out there and inside. Ayesha threw up and I had to change her clothes and her nappy just beside the baggage claim, as we didn't have a baby change table in the toilet. The 15 celcius degrees differences between Sydney and Denpasar/Surabaya was shocking us. But as soon as we met our family at Juanda, it didn't really matter anymore. Everbody was there, my mom, my dad and mom in-law, my brother and sister. We had a long hugging and kissing session, but this time there was no tear, only big smile. From Surabaya, we drove to Malang. Along the way, my six-year-old daughter, Anindya, was really confused to see so many people. T...

Busy or Lazy?

Image
fiuh, udah lamaaaa banget enggak nge-blog. banyak perjalanan dan persinggahan. banyak hal baru, yang membuat excited tapi juga menakutkan. my journey started from jogja, kota yang paling aku cintai. sering mengaku orang jogja, padahal lahirnya di pinggiran jogja alias Jogja coret. temen2, rumah ortuku persis di sebelah kali krasak, yang pasti dapat jatah aliran lahar dingin kalau merapi bergejolak. ada beberapa temen yang sms: ortumu gimana? baik-baik aja? Kujawab: ya, baik-baik aja. seneng deh bisa berkunjung ke sma ku dulu, tempat aku belajar banyak hal. yang menyenangkan sekaligus yang mengerikan. dari pengalaman pribadi di sma patbhe juga yang bikin aku terinspirasi menulis DENGERIN DONG, TROY!. Lucu-lucu deh anak SMA. mereka seru dan semangat banget. ugh, aku jadi berasa masih muda. lihat deh foto2nya, jadi pengen berpose melulu, hehehe. Thanks to Zaki yang udah motretin. Fotomu jurnalistik banget, hehehe... Thanks juga buat Bunda Siti Mulyani dan pak kepala sekolah yang udah ...