Posts

Showing posts with the label shortstory

'Please don't write about me again, Mommy!'

Image
My mom emailed me the file of my published-in-KOMPAS short story yesterday. Nindi was curious to see the page with cute illustration. "What is that, Mommy?" "This is mommy's short story, appeared in newspaper. Let me read it for you." Then I read the story for her. I wrote this about 9 months ago (I forget the exact date as I don't have the original file). This story is about Nindi sucking her thumb. It is based in a true story but I modified some parts. At first, Nindi enjoyed the story. But then when I finished reading, she puckered up her lip. "Mommy, why do you write story about me? Everybody will know..." She was upset. Oh, Dear. I tried to explain to her that it was just a story. "Please don't write about me again, Mommy. Don't write that I like playing doctor. Mbak Nina will know that I don't like being the patient. I just like being the doctor. You promise?" I said nothing but hug her. A.K. in the picture: Nindi when s...

my.shortstory.is.published.in.KOMPAS.today.

Image
tra la la....     A.K.  

Cerpen IBU DEWI - bagian satu

Ini adalah cerpenku yang dimuat di In-Flight Magazine-nya LION AIR.   This story is dedicated to EH. Enjoy reading!   M endengar namanya saja saya sudah muak dan ingin muntah. Sebenarnya, Dewi adalah   nama yang bagus. Artinya kira-kira bidadari, dewa perempuan, ratu, atau puteri. Yang pasti, Dewi adalah nama untuk ‘perempuan baik-baik’. Saya membencinya bukan karena dia perempuan yang menyebalkan. Sama sekali bukan. Seperti namanya, Ibu Dewi adalah perempuan baik-baik, cantik, pintar dan sukses. Dia seorang pengacara terkenal. Saking terkenalnya, wajahnya kini mulai muncul di siaran infotaintment . Menyebut nama Ibu Dewi, orang akan segera ingat Ibu Dewi sang pengacara, seperti orang mengingat Ibu Dibyo si ratu tiket atau Ibu Gito si juragan PRT. Ibu Dewi bukan tipe perempuan yang pantas untuk dibenci. Pembawaannya ramah, selalu tersenyum dan penuh perhatian kepada setiap orang. Tapi dia juga bisa galak kepada lawan-lawannya untuk urusan persidangan. Baiklah, saya berita...

Cerpen IBU DEWI - bagian dua

Dulu, Arman dan saya bisa telponan berjam-jam tanpa gangguan. Namun akhir-akhir ini, nama Ibu Dewi selalu muncul di tengah perbincangan kami. “Tutup dulu ya, Sayang, telfonnya. Ibu Dewi nelpon nih,” begitu katanya. Saya cemberut. “Tutup ya Sayang, ntar kutelpon lagi deh,” bujuknya, seolah tahu kalau saya cemberut. Kejadian ini berulang terus, setiap kali saya menelponnya. Jangan-jangan Ibu Dewi tahu kalau suaminya sedang ditelpon saya? Dulu, Arman dan saya bisa sms-an berjam-jam. Dulu, sms saya selalu dibalas dengan cepat. Namun akhir-akhir ini, nama Ibu Dewi selalu muncul di layar hape saya. “Psst, udah dulu ya, Sayang. Ada Ibu Dewi,” begitu balasan sms-nya tiba-tiba. Hah? Bukannya Ibu Dewi sedang sibuk mengurusi perceraian seorang seleb? Kok tiba-tiba dia jadi ada di rumah terus ya? Ibu Dewi, Ibu Dewi. Kadang saya jadi memikirkannya, lebih sering daripada saya memikirkan Arman. Saya sering berkhayal, suatu saat kami akan berkenalan. Apa yang akan saya katakan nanti, kalau kami berjum...