Posts

Showing posts with the label sekolah

AYAH HADIR

Image
Lil A di Grundschule Hari ini hari terakhir Lil A sekolah di SD. Grundschule di sini hanya sampai kelas 4. Setelah itu langsung lanjut ke kelas 5 di Sekolah Menengah. Lil A sudah mendapatkan sekolah menengah yaitu Adorno Gymnasium yang lumayan dekat dengan rumah, 15 menit naik sepeda. ‘Hari Kelulusan’ SD di sini biasa banget. Nggak ada perayaan apa-apa, nggak ada wisuda yang ekstravaganza. Lha wong nggak ada ujiannya juga. Lil A pun hanya mendapatkan Zeugnis alias raport thok til, yang cuma dua halaman kertas biasa. Nggak ada ijazah SD (Mbuh nanti gimana kalau mau ngelanjutin ke SMP di Indonesia, dipikir engko), nggak ada SHUN (UN-nya aja nggak adaaaa). Aku pikir tadi bakalan ada semacam pentas seni tutup tahun gitu. Aku udah siap-siap hadir sore hari meski gak terima undangan. Kupikir Lil A kelewat ngasih undangannya. Meski aku agak melow karena Nino masih dines di LN. Ternyata nggak ada apa-apa babar blas. Aku tadi cuma pamitan sama carer-carer Lil A di Betr...

SISTEM ZONASI SEKOLAH DI JERMAN: Pengalaman Lil A Masuk Gymnasium

Image
Tadinya aku nggak mau ikut-ikutan nulis tentang zonasi yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Tapi karena banyak yang ingin tahu tentang sistem sekolah di sini, aku akan membagikan pengalaman keluarga kami ‘mencarikan’ sekolah menengah buat Lil A (11 tahun). Semoga bisa menambah wawasan. Kami tinggal di kota Frankfurt am Main di negara bagian Hessen. Sekolah dasar (Grundschule) di sini, sama dengan sebagian besar negara bagian lain di Jerman, hanya sampai kelas 4. Mulai kelas 5, anak-anak masuk sekolah menengah yang terbagi menjadi tiga macam: Hauptschule, Realschule, dan Gymnasium. Jerman menerapkan wajib belajar sampai anak-anak berusia 16 tahun. Undang-undang mengamanatkan setiap anak (tidak peduli status kependudukannya, apakah imigran atau refugee) berhak mendapatkan akses pendidikan, selama anak ini tinggal di Jerman dan belum menginjak usia 16 tahun. Pemerintah wajib menyalurkan anak usia sekolah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggal. Ini mirip dengan ketika ...

NGAPAIN SEKOLAH LAGI?

Image
Iya juga ya, ngapain nambah-nambah perkara, keluar dari zona nyaman? Toh kebutuhan hidup sudah terpenuhi, hobi traveling juga bisa diwujudkan. Lalu saya ingat tujuan saya dulu cari perkara dengan kuliah lagi di Universitas Terbuka. Selain ingin memperbaiki 'hal-hal yang tidak selesai' di kuliah saya terdahulu, saya juga ingin menjadi role model yang baik bagi anak-anak saya . Bahwa tidak ada kata terlambat dalam belajar (klise tapi bener adanya). Bahwa ada kesempatan kedua kalau kita mau mengambilnya. Bahwa tidak ada salahnya kamu mengikuti passion -mu. Bahwa hidup kadang harus melewati jalan memutar. No worries , kita akan tetap sampai asal tidak berhenti melangkah. ~ A.K.

KULIAH & CITA-CITA

Image
Big A di Darling Harbour, Sydney Seperti anak-anak lainnya, cita-cita Anindya berubah-ubah. Dulu dia ingin sekali menjadi astronomer. Waktu itu dia gandrung dengan sains dan matematika. Ketika kelas 1 di SD Marrickville West, dia sudah bisa mengerjakan soal-soal kelas 4. Tapi ya maklum aja sih, wong level matematika Ostrali lebih rendah daripada Indonesia, hehe. Lalu dia menemukan keasyikan di dunia buku. Memb aca adalah terapinya ketika adaptasi pindah ke Indonesia. Dia termasuk pembaca cepat, sehari bisa selesai satu novel. Gara-gara itu, dia bercita-cita ingin jadi penulis. Lama-lama, cita-cita Anindya bukan tentang profesi lagi, tapi apa yang ingin dia pelajari ketika kuliah nanti. Kelas 5 SD, dia ingin kuliah sastra di Universitas terbaik di dunia: Oxford. Cita-cita memang nggak boleh tanggung-tanggung ya. Dia waktu itu sedang gandrung dengan JRR Tolkien (dan Legolas :p). Semua fakta tentang Middle Earth dia lahap dari Wikipedia, sampai hafal silsilah dunia ...

Profesi Kita, Impian Yang Hidup

Image
Suasana di kelas. Foto oleh Adiar Ersti "Kita ini orang-orang gila yang kurang kerjaan," kata Bu Ita Guntari, financial planner yang duduk di sebelah saya di briefing Kelas Inspirasi Surabaya. Celetukan beliau diamini oleh Bu Astrid Wiratna, psikolog RS Siloam, yang tertawa lebar di kursi di belakang saya. Kami termasuk ratusan orang yang menyambut tantangan "mengajar sehari" di SD negeri, untuk menginspirasi mereka tentang profesi yang kita geluti. Tadinya saya merasa nggak pede, saya kan nggak sukses-sukses amat, profesi saya 'cuma freelancer'. Tapi kalimat itu bagaikan lampu menyala di atas kepala saya. Justru itu, Cyin! Anak-anak ini perlu diberi wawasan kalau kita bisa kerja kreatif dari mana saja, tidak perlu masuk kantor, tidak harus kerja di jam tertentu, bisa sambil tetap momong anak, dan nggak peduli kita lulusan apa asal punya keahliannya. (alasan yang terakhir semacam curcol!). Trrrrriiiiiiing!!! Saya putuskan mengisi formulir, mendaftar i...