Posts

Showing posts with the label food

Resep Diet Mayo 13 Hari

Image
Makan siang Diet Mayo hari pertama Beneran nih mau nyoba diet mayo? Sudah baca pengalaman saya di sini kan? Nggak usah takut, dietnya nggak nyiksa-nyiksa banget kok, seenggaknya buat saya. Menu diet mayo sudah ditentukan untuk 13 hari. Ada menu sampai hari ketujuh, lalu hari kedelapan menunya mengulang dari hari pertama. Kabar baiknya, menu diet mayo ini bisa diakali agar ada rasanya, asal tidak ditambahi garam. Bumbu-bumbu lain seperti bawang, bawang bombay, bawang merah, lada putih, lada hitam, cabe dan berbagai macam herba diperbolehkan. Tapi nggak boleh pakai kecap manis atau saus tomat botolan ya. Bahkan mentega pun boleh, asal yang tawar ( unsalted butter ). Untuk sarapannya gampang banget, biasanya secangkir kopi atau teh, dengan 1 sendok teh gula rendah kalori. Saya pakai gula Tropicana Slim. Di hari keempat ada tambahan 1 iris roti bakar. Saya pakai roti gandum utuh ( whole wheat bread ). Sarapan hari kelima agak susah, karena cuma 1 wortel besar mentah yang diparut da...

Resep

I am a complete idiot on cooking . Ibu saya piawai memasak masakan super lezat. Sayangnya bakat itu tidak 'menurun' ke saya. Kok bisa ibunya pinter masak tapi anaknya gak bisa masak sama sekali? Entahlah. Seingat saya waktu kecil dulu saya juga sering disuruh membantu ibu di dapur. Tapi ibu tidak pernah sabar dengan hasil kerja saya yang lambat dan tidak sempurna. Asal tahu saja, ibu saya sangat cepat dan trengginas dalam bekerja, dengan hasil sempurna. Seringnya, bantuan saya malah menghambat kerja ibu, jadi saya sering diusir dari dapur.  Alhasil, saya tidak mewarisi ketrampilan memasak ibu. Tapi saya tidak bisa menyalahkan ibu yang terlalu pintar memasak. Nyatanya adik saya juga berbakat memasak. Dia lebih sukses menjadi apprentice ibu. Sepertinya, masalahnya memang ada pada diri saya sendiri. Tinggal di negeri orang memaksa saya memasak sendiri. Sehari-hari kami makan makanan Indonesia. Suami saya termasuk orang yang belum kenyang kalau belum makan nasi. Dulu saya sel...

Mengintip Sekolah Anindya

Image
Hari ini ada open house di sekolah Anindya (7 tahun), berikut pameran karya seni dan parents brunch . Acara open house semacam ini memberi kesempatan pada orang tua murid untuk melihat kegiatan belajar mengajar di kelas. Tentu saja kesempatan seperti ini tidak kami lewatkan. Sebelum mengintip ruang kelas, kami melihat-lihat pameran karya seni murid-murid Hampden Park Public School (HPPS). Setiap siswa menampilkan satu karya mereka, entah itu lukisan, kolase, sketsa, gambar atau karya seni rupa yang lain. Tiap kelas mempunyai tema tersendiri. Tema kelas Anindya adalah membuat lukisan vas bunga. Hasil kreativitas anak-anak usia SD ini sungguh mengagumkan. Mereka tidak takut untuk mengeluarkan ide mereka dalam bentuk karya. Beberapa kelas mengambil tema Picasso. Dari tema Picasso saya menjumpai karya sketsa dan kolase yang unik. Mungkin tema Picasso ini cocok untuk anak-anak karena mereka tidak terintimidasi untuk membuat lukisan atau karya yang "indah" dan "sempur...

BBQ Party

Image
Karena cuaca sudah mulai dingin, memasuki winter , saya memprovokasi beberapa teman untuk mengadakan pesta barbekyu (gimana ya ejaan resmi dalam Bahasa Indonesia nya?). Memang musim dingin begini enaknya bakar-bakar. Minggu kemarin jadi juga kami serombongan bakar-bakar di Federal Park, Glebe. Orang Aussie suka sekali barbekyu-an. Mereka biasa menyingkat Barbecue menjadi Barbie . Bisa dikatakan masakan khas mereka adalah BBQ (mungkin lebih enak disingkat begini ya?). Dari pengalaman saya ikutan BBQ ala Aussie dan ala Indo, inilah beberapa catatan perbedaannya. 1. Peserta Bule biasanya lebih sedikit pesertanya, hanya 2-4 keluarga. Kecuali bule campur seperti Italia atau Yunani yang memang suka kumpul-kumpul. Bandingkan dengan orang Indo yang rasanya nggak seru kalau pesta cuma orang sedikit. Kalau perlu orang sekampung ikut semua. BBQ kami minggu lalu dihadiri 12 keluarga. 2. Lokasi Bule biasanya punya rumah dengan halaman belakang yang luas untuk pesta BBQ. Sementara pelajar...

Nasi Goreng

D ulu saya tidak tahu kalau makanan khas Indonesia adalah nasi goreng. Saya baru 'ngeh' setelah tahu nasi goreng begitu populer di Sydney. Orang sini menyebut dan menuliskannya: Nasi Goreng, bukan fried rice . Mereka melafalkannya dengan 'go' yang panjang, menjadi nasi goooreng. Masakan khas Indonesia ini, selain menjadi menu wajib di warung Indonesia, juga menjadi menu sarapan pagi di kafe-kafe. Suatu ketika saya makan siang di Marrickville Post Cafe (hehe, gaya banget ya?). Saya deg-degan juga karena baru kali ini saya memberanikan diri makan di kafe. Sendirian dan hamil besar lagi. Biasanya saya ke kafe cuma beli kopi, itu aja kafe yang di pinggir jalan. Kafe-kafe di sini biasanya mempunya 2-3 menu pilihan untuk setiap jam makan. Saya lihat di daftar menu untuk hari ini, ternyata menu sarapannya adalah Special Nasi Goreng: fried rice with shredded chicken and spring onion, topped with fried egg . Batin saya, kalau cuma begitu mah saya bisa bikin sendiri di ruma...

Ngangkring di Mc Donald

Pengen makan di luar dengan dana pas-pas an? Datanglah ke Mc Donald. Di Indonesia, hanya orang yang berduit yang sanggup makan di Mc D. Rasanya keren bisa makan di restoran cepat saji itu. Tapi di sini, Mc D adalah restoran dengan harga makanan paling murah, yah, mungkin pamornya sejajar dengan angkringan di Jogja. Sepotong cheeseburger harganya 'hanya' $1.95, bisa dibeli dengan uang receh. Happy Meal favorit Anindya bisa dibeli seharga $4.25. Menu lengkap: burger, kentang goreng bertabur garam dan coke harganya di bawah $5. Soft Ice Cream-nya yang terkenal itu, hanya 80 sen. Memangnya berapa sih harga makanan yang lain? Di sini, makanan harganya rata-rata $6 - 7. Misalnya doner kebab, sepotong pizza, masakan cina (satu porsi nasi dengan 2 macam lauk), 1/4 ayam barbecue, sepiring salad, sepotong sandwich, atau burger beneran (artinya burger lain selain Mc D). Itu belum dengan minumnya loh. Sebotol air mineral 600 mL harganya $2, lebih mahal dari seliter bensin yang hanya $1,2...

Ngidam

I am longing for "real" Indonesian food, not the one with instant bumbu. Especially these: 1. My Mom's soto kentang 2. Soto Pak Sholeh 3. Soto Mang Udi 4. Soto Kudus Simanjuntak 5. Ayam bakar and telur coklat Yu Yem 6. Hot Cui Mie Gloria Malang 7. Bubur ayam Muntilan 8. Gudeg Yu Djum 9. Bakso Kota Malang 10. Es krim Tip Top Jogja 11. Sate Ayam Madura deket rumah 12. Kupat Tahu Blabak Glurp! I am writing this to ease my pain. Here, I can only find one food that satisfy my tastebud, which is: Turkish Gozleme. It's kind of martabak, with chicken mince, cheese and spinach inside, served with chilli sauce and lemon wedge. We have plenty Indo restaurant here but they are far far away from home, need one hour journey to reach Kingsford aka kampung Indo. Actually, 5 minutes from my place, there is a small Indo resto, but the taste is far far away from our expectation. But since whinning is not good for the baby, better to think positive. At least here, I can easily find a ...

Jemunak

What's in your mind when you hear the word 'jemunak'? Jemunak is a traditional food, a snack, made from steamed cassava and sticky rice, garnish with sprinkled coconut and palm sugar sauce. It's soft, melt and just delicious. Yum! Suddenly, this world pops up in my mind. I used to eat Jemunak to break my fasting in ramadan, when I was a child. You can't find Jemunak anywhere but in Muntilan, a small town where my mom grew up. In my village, Karaharjan, there was only one person to make jemunak: Mbah Mul. He is my late grandma's neighbour. I really miss it that I googled it. To my surprise, I found two articles about it in local newspaper. Yup, it is about Mbah Mul and his jemunak. You can read it here and here . Now he is so old and nobody else can make jemunak. I'm afraid this yummy snack will extinct soon. Argh, better call my mom to ask about Mbah Mul. A.K.

Durian and Other Wonderful Fruits

Image
Durian always be my favourite fruit, although I only eat it once a year, when it comes in season. Back then, my family and I will gather in the dining floor (not on the table), ate four durians at once. My Mom, Dad and my sista, Dila love it as well. When I lived in Ngadiwinatan with Nino and Nindi, there were Durian sellers a stroll from our house. When it's the season, Jalan KH Ahmad Dahlan was full of Durian sellers. We could only eat them when my parents-in-law came to visit us in Jogja. Bapak was the best at choosing Durian (actually, he's the best at choosing any kind of fruits). We had to be extra careful cause some merchants were very tricky. I'm very lucky that here in Sydney, I can still taste the beautiful flavour of Durian. I bought Durian yesterday from my store . It's only $3.59 a kilo. I chose the smallest one that only cost $7. At home, I asked Nindi wether she still remember Durian. She said, "What is that, Mommy? Is it a pineapple?" H...