Posts

Showing posts with the label indonesia

Profesi Kita, Impian Yang Hidup

Image
Suasana di kelas. Foto oleh Adiar Ersti "Kita ini orang-orang gila yang kurang kerjaan," kata Bu Ita Guntari, financial planner yang duduk di sebelah saya di briefing Kelas Inspirasi Surabaya. Celetukan beliau diamini oleh Bu Astrid Wiratna, psikolog RS Siloam, yang tertawa lebar di kursi di belakang saya. Kami termasuk ratusan orang yang menyambut tantangan "mengajar sehari" di SD negeri, untuk menginspirasi mereka tentang profesi yang kita geluti. Tadinya saya merasa nggak pede, saya kan nggak sukses-sukses amat, profesi saya 'cuma freelancer'. Tapi kalimat itu bagaikan lampu menyala di atas kepala saya. Justru itu, Cyin! Anak-anak ini perlu diberi wawasan kalau kita bisa kerja kreatif dari mana saja, tidak perlu masuk kantor, tidak harus kerja di jam tertentu, bisa sambil tetap momong anak, dan nggak peduli kita lulusan apa asal punya keahliannya. (alasan yang terakhir semacam curcol!). Trrrrriiiiiiing!!! Saya putuskan mengisi formulir, mendaftar i...

Koala vs Komodo

Orang Aussie fanatik sekali dengan hewan-hewan khasnya. Mereka punya Koala, Kanguru, Wombat, dan Buaya. Sementara kita juga punya hewan-hewan khas yang unik: Orang Utan, Anoa, Badak Bercula Satu, Cendrawasih dan Komodo. Sayangnya, apresiasi kita terhadap mereka hanya sebatas nama-nama yang harus kita hafal dari buku pelajaran sekolah. Anindya pertama kali melihat Komodo di Taronga Zoo, Sydney. Dia takjub melihat ' extra big lizard '. Lebih takjub lagi ketika dia tahu Komodo berasal dari Indonesia. " Wow, they're from Indonesia ," teriaknya dengan nada bangga ketika membaca keterangan di depan kandang komodo. Lebih lanjut saya jelaskan kalau di Indonesia ada pulau bernama pulau Komodo, tempat tinggal para komodo. Anindya lebih ber-wow lagi. Anindya juga beberapa kali melihat film dokumenter tentang orang utan. Orang sini (dan juga Anindya) melafalkannya 'Oreng Uten'. Saya jelaskan kalau nama orang utan itu berasal dari kata Orang yang tinggal di...

Baca Koran Pagi

Image
Dengan adanya teknologi e-paper, kami sekarang bisa baca Kompas cetak pagi-pagi, lebih dulu dari pelanggan di Indonesia. Asyiknya lagi, layanan ini gratis. Syaratnya tentu saja sambungan internet dengan kecepatan tinggi. Sambungan internet pita lebar kami saat ini mencapai 2.375 kpbs (barusan saya cek, mohon maaf kalau ada yang iri ^_^). Dengan kecepatan seperti itu dibutuhkan sekitar 30 detik untuk membuka setiap halaman koran. Sebelum ada e-paper, kami sudah lumayan puas mengintip berita tentang Indonesia di kanal-kanal berita online. Tapi, rasanya kok lebih mantap kalau membaca koran tradisional, halaman per halaman. Saya juga kangen membaca koran minggu dengan cerpen dan benny&mice -nya. Nino juga terpuaskan membaca opini dan mengkritik segala macam huru-hara politik. Sudah saya bilang agar dia memulai menulis blog, daripada hanya saya yang menjadi pendengar setia komentar-komentar cerdasnya, tapi ya, memang calon phD yang satu ini sibuk sekali . Saya tidak perlu kecewa...

Nasi Goreng

D ulu saya tidak tahu kalau makanan khas Indonesia adalah nasi goreng. Saya baru 'ngeh' setelah tahu nasi goreng begitu populer di Sydney. Orang sini menyebut dan menuliskannya: Nasi Goreng, bukan fried rice . Mereka melafalkannya dengan 'go' yang panjang, menjadi nasi goooreng. Masakan khas Indonesia ini, selain menjadi menu wajib di warung Indonesia, juga menjadi menu sarapan pagi di kafe-kafe. Suatu ketika saya makan siang di Marrickville Post Cafe (hehe, gaya banget ya?). Saya deg-degan juga karena baru kali ini saya memberanikan diri makan di kafe. Sendirian dan hamil besar lagi. Biasanya saya ke kafe cuma beli kopi, itu aja kafe yang di pinggir jalan. Kafe-kafe di sini biasanya mempunya 2-3 menu pilihan untuk setiap jam makan. Saya lihat di daftar menu untuk hari ini, ternyata menu sarapannya adalah Special Nasi Goreng: fried rice with shredded chicken and spring onion, topped with fried egg . Batin saya, kalau cuma begitu mah saya bisa bikin sendiri di ruma...

Contrengan

Image
Sepertinya keren ya kalau ikut pemilu di Luar Negeri? Tadinya saya pikir begitu. Sudah siap-siap dengan kamera poket untuk berfoto-foto. Eh, ternyata batere-nya habis. Duh, batal bergaya deh. Nino dan saya mengikuti contrengan di Campsie, TPS terdekat dari tempat tinggal kami. Tempat yang dipakai contrengan ini adalah gedung serbaguna, mirip ballroom hotel, yang disewa oleh panitia pemilihan luar negeri. Lumayan keren juga TPS-nya, bebas becek (dan tentu saja bebas ojek, hehehe) karena lantainya berkarpet tebal. Bilik suaranya terbuat dari karton tebal (seperti karton bekas kulkas) yang dimodifikasi. Sederhana dan praktis, selesai acara tinggal dilipat dan bisa digunakan lagi di pilpres mendatang. Sebenarnya saya tidak terdaftar pada pemilihan kali ini. Ketika masa-masa pendaftaran dulu, saya masih berada di Surabaya (sementara saya ber-KTP Malang). Mungkin juga saya terdaftar di Malang, ah, tidak tahu persis. Tapi katanya memilih di sini tidak perlu ada dalam daftar pemilih, ...

Kosakata

Saya banyak kehilangan kosakata bahasa Indonesia. Ketika menulis, saya sering tidak menemukan padanan kata yang sesuai dalam bahasa Indonesia. Untuk tetap mengikuti perkembangan bahasa, begitu pulang, saya langsung memborong novel-novel dan membaca dengan rakus. Pertama, saya menamatkan Bilangan Fu. Saya menikmati novel ini sampai kemunculan Ayu Utami dalam novel yang membuat saya ilfil. Kemudian saya membaca Dan Hujan Pun Berhenti,  teenlit 'gelap' yang membuat saya terbata-bata membaca. Novel Amalia 100 Jam dan kumpulan cerpen Ripin cukup menghibur, sementara Istana Kedua Asma Nadia membuat saya gundah gulana. Saya juga membeli obralan Handphone JokPin (ini buku puisi, bukan alat komunikasi) di Jogja, beberapa novel Hamsad Rangkuti dan puisi Gus tf yang belum saya baca. Rectoverso saya baca sekali teguk. Saat ini saya sedang mengunyah Maryamah Karpov. Andrea membuai saya dengan kosakata melayu yang berbuih-buih. A.K.

Becek Nggak Ada Ojek

Image
Anindya mogok bicara. Beda dengan saya yang lega karena bisa ngomong tanpa mikir, anak saya malah bingung. Anindya juga langsung ngambek dan masuk kamar kalau kami tertawa-tawa ketika ngobrol menggunakan bahasa Indonesia bercampur Jawa. Dia merasa diabaikan karena tidak mengerti sama sekali apa yang kami bicarakan. Namun pelan-pelan, seiring dengan kosakata yang dia ambil dari sekolah, dia mulai berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Bahasanya masih campur-campur dengan aksen yang aneh, persis Cinta (dibaca: Cinca) Laura. Kami terpaksa menahan senyum kalau mendengar kata-kata ajaibnya. Sekarang Anindya sudah menggunakan bahasa Indonesia secara penuh. Jarang dia berbahasa Inggris kecuali pada Ayahnya. Agar kemampuan bahasa Inggrisnya tidak hilang, Ayahnya membacakan cerita dari buku-buku Enid Blyton sebelum tidur. Kami juga menyemangatinya untuk membaca sendiri buku-buku nya yang berbahasa Inggris. Seminggu belakangan ini Anindya rajin menulis buku harian dalam bahasa Indonesia. Dia m...