Ibu saya tidak lulus SD, sekolah hanya sampai kelas 2, cuma bisa baca tulis dan berhitung. Ketika remaja, Ibu menjadi pelayan toko kain. Selama itu, beliau menabung gajinya dengan membeli emas. Setelah menikah dengan Bapak (katanya sih lulus SD, tapi kami tidak pernah melihat ijazahnya), Ibu menjual emasnya untuk modal buka toko. Bapak menjahit dan Ibu berjualan alat-alat jahit seperti benang, kancing, jarum. Keluarga kami hi dup sederhana. Kami tinggal di kios satu lantai. Saya tidur di kasur busa tipis yang digelar ketika toko sudah tutup. Kami tidak punya TV, kalau ada acara menarik (misalnya ketoprak TVRI), kami harus menonton di TV tetangga. Benda-benda mewah seperti kulkas dan sambungan telepon baru kami punya setelah saya lulus SMP.
Gaya Dee di Coaching Clinic Surabaya Ketika tahu @bentangpustaka akan mengadakan Dee's Coaching Clinic di beberapa kota di Indonesia, saya langsung save the date yang di Surabaya. Makanya saya nyengir-nyengir bahagia ketika ada undangan dari Mbak Avee, bagian promosi Bentang. Ini 'pertemuan' keempat saya dengan Dee setelah roadshow Supernova di Jogja tahun 2001 (saya masih kuliah di UGM dan masih kurus), promosi Filosofi Kopi di Malang tahun 2006 dan ketika Dee diundang NSW Writer's Centre di Sydney tahun 2006. Sembilan tahun dan sembilan kilogram (saya, bukan Dee) kemudian saya mendapat kesempatan bertemu penulis idola saya ini lagi. Pertemuan kali ini paling intim dan paling memuaskan karena para pesertanya sudah 'satu perahu' di dunia kepenulisan, jadi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan bermutu tinggi. Berikut catatan saya tentang ilmu yang saya dapat dari Dee's Coaching Clinic di Perpustakaan Bank Indonesia Surabaya, Minggu 29 Maret 2015.
It's been 40 days since that heart stopping moment, but I can still recount it. Although we were alone here, no Mom, relatives and other "busy bodies", I felt super confident that I could do just right with my second pregnancy. I thought been there, done that. Besides, everyone (and the book) said that delivering the second child would be easier that the first one. Unfortunately, in my case, it wasn't that easy. I started having my real contraction early Friday morning. I thought the time has came. So I packed my bag and got ready to the hospital. I rang the hospital between my every-five-minute contraction, but the midwife said that I had to wait until I had the strong, painful one. I waited the whole day. I managed to eat, sleep and have shower between that. Nino stayed beside me and was very helpful. At 8 pm, I could wait no more. Nino rang the hospital and they let me come. We requested an ambulance. It sound dramatic, but it's only because we didn't own a...
Kembali ke Australia rasanya kok kayak pulang kampung aja. No surprise, no more excitement . Semua masih seperti enam bulan yang lalu ketika kami kembali ke Indonesia. Mulai menginjakkan kaki di bandara, saya sudah tahu mau menuju kemana. Melewati petugas imigrasi, saya juga kalem-kalem aja, bahkan saya kepedean menyapa mereka duluan. Bandingkan dengan waktu pertama kali saya ke Australia, deg-deg-an terus bawaannya. Takut enggak ngerti mereka ngomong apa. Padahal toefl saya lumayan loh... cuma tingkat percaya diri saya saja yang rendah. Maklum, saya ini memang soliter di dunia nyata. Nino was as handsome as ever. We hugged and kissed and went home by taxi. Tempat tinggal kami juga seperti yang saya bayangkan. Harga barang-barang di sini juga belum naik (ugh, jangan sampai). Susu cair satu liter masih $1.09, sayap ayam mentah satu kilo masih $2.60, tempe satu kotak juga masih $2.50, teh kotak 200 mL $1.10. Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge juga masih semegah sebelumnya. ...
Makan siang Diet Mayo hari pertama Beneran nih mau nyoba diet mayo? Sudah baca pengalaman saya di sini kan? Nggak usah takut, dietnya nggak nyiksa-nyiksa banget kok, seenggaknya buat saya. Menu diet mayo sudah ditentukan untuk 13 hari. Ada menu sampai hari ketujuh, lalu hari kedelapan menunya mengulang dari hari pertama. Kabar baiknya, menu diet mayo ini bisa diakali agar ada rasanya, asal tidak ditambahi garam. Bumbu-bumbu lain seperti bawang, bawang bombay, bawang merah, lada putih, lada hitam, cabe dan berbagai macam herba diperbolehkan. Tapi nggak boleh pakai kecap manis atau saus tomat botolan ya. Bahkan mentega pun boleh, asal yang tawar ( unsalted butter ). Untuk sarapannya gampang banget, biasanya secangkir kopi atau teh, dengan 1 sendok teh gula rendah kalori. Saya pakai gula Tropicana Slim. Di hari keempat ada tambahan 1 iris roti bakar. Saya pakai roti gandum utuh ( whole wheat bread ). Sarapan hari kelima agak susah, karena cuma 1 wortel besar mentah yang diparut da...
Lil A dan hasil masakannya. "Yak, sudah enak." Menjadi ibu itu berat. Apalagi ibu zaman sekarang ya, yang kadang dituntut untuk tampil sempurna di sosial media. Sebenarnya ya nggak ada yang nuntut sih. Tapi kadang kita mbatin kalau ada postingan ibu-ibu yang bikin kita iri, bisa masakin bekal anak tiap hari, dibentuk lucu-lucu, anak-anaknya pakai baju tersetrika licin, seragam putihnya tanpa noda berkat bayclin. Sungguh aku kagum padamu ibu-ibuuuu. Tapi apa benar anak-anak kita membutuhkan sosok ibu yang sempurna? Yang selalu siaga mengerjakan apapun dengan cepat dan tepat, nggak pernah mengeluh, dan nggak pernah salah? Ibu juga manusia kaleee, nggak ada yang sempurna. Dulu pas jadi ibu muda, saya pun berusaha ikut ‘perlombaan tak kasat mata’ untuk jadi ibu yang sempurna. Hati saya teriris-iris melihat postingan bekal anak unyu-unyu, sementara saya cuma bisa gorengin nugget. Bisa ditebak insekyuriti saya di bidang apa, hahaha. Tapi lambat laun saya sadar kalau perlo...
The word "Book-Fair" for me and Nino might be sounds like "Mango-Sale" for a shopaholic. Nino and I are not a big spender on anything but books. In the Sydney Uni Book Fair last week, we bought books like crazy, as those were very-very-very-very cheap (even if you convert it into Rupiah). So, Didi got several good books including Where's Wally? (soon become our family's favourite book), Where Did I Come From Book, Pop Up Book, several early reading materials (for 5 cent each, crazy!), and many more... Nino got some heavy-and-serious textbooks you-dont-want-to-know-what. Lucky him! Also Covey's Leadership book for $2, Rich Dad Guide for Investing for 50cent (we've already read it in Indonesian, actually), and many more... I also got my favorite: Sophie Kinsella's for only $1, The Last Time I saw Mother for $1, Bryce Courtenays , Adrian Mole's Diary (two books), Oxford English Dictionary for $2, Chicken Soup for The Teenage Soul (hahah, but ...
Me, Right Now! 1. 150/44 2. gigi kelinci, dua gigi rusak, pengen nyabut nggak sempat2 3. rambut panjang yang rontok hebat 4. perut gendut, masih suka makan fastfood 5. a happy mom from a cute little girl 6. a happy wife from a-damn-smart-Nino 7. udah menelorkan satu novel keren. YES! Alhamdulillah… 8. Bahasa Inggrisnya masih payah, TOEFL cuma 513 9. belom bisa nyetir mobil (lha yang disetir belom ada…) 10. masih numpang mertua, hik 11. pengen fitnes, tapi nggak jadi-jadi 11. pengen liburan, tapi nggak sempat2 Me, Five Years From Now! 1. 150/42, diet food combining sukses 2. sexier, udah rajin fitnes 3. gigi udah dikawat rapi 4. wajah tambah kinclong, pake IRS Artistry 5. a happy Mum from two kids 6. penulis best seller 7. punya rumah dengan halaman belakang 8. punya city car yang luthuuu… 9. TOEFL at least 600 10. mendirikan penerbitan dengan Nino Me, Ten Years From Now! 1. lebih matang dan mantap 2. punya rumah dengan 2 pavilyun dan kolam renang 3. punya perpus...
Tadinya saya iseng ikut lomba Blog Writing Competition yang diadakan oleh Garuda Lovers Community . Saya sudah posting tulisan ini sebelum saya tahu ada lomba tersebut. Makanya, begitu tahu ada lomba, saya ikutkan saja tulisannya, kebetulan temanya cocok banget. Tadi barusan di-email Mama, katanya dapat surat ( yes, snail mail ) dari Garuda (dikirim ke alamat rumah di Malang), blog-ku menang juara dua. Hadiahnya tiket Garuda Jakarta - Balikpapan pp. Sayangnya, tiket ini tidak bisa dialihkan atau dijual. Waduh, sama juga bohong ya. Masak saya harus balik dulu ke Jakarta untuk bisa menikmati gratisan ke Balikpapan. Lagian, ngapain ke sana? Coba kalau hadiah bisa dialihkan atau ditukar, kan tidak terbuang sia-sia. Terus, kok bisa menang ya? Saya sendiri juga heran. Padahal saya nulisnya nggak bagus-bagusin Garuda loh. Atau mungkin karena saya jujur dan apa adanya ya? Hehehe. Masih nggak percaya nih, secara saya belum melihat dengan mata kepala sendiri bahwa saya menang lomba. Barusa...
Tadinya aku nggak mau ikut-ikutan nulis tentang zonasi yang sedang ramai dibicarakan di Indonesia. Tapi karena banyak yang ingin tahu tentang sistem sekolah di sini, aku akan membagikan pengalaman keluarga kami ‘mencarikan’ sekolah menengah buat Lil A (11 tahun). Semoga bisa menambah wawasan. Kami tinggal di kota Frankfurt am Main di negara bagian Hessen. Sekolah dasar (Grundschule) di sini, sama dengan sebagian besar negara bagian lain di Jerman, hanya sampai kelas 4. Mulai kelas 5, anak-anak masuk sekolah menengah yang terbagi menjadi tiga macam: Hauptschule, Realschule, dan Gymnasium. Jerman menerapkan wajib belajar sampai anak-anak berusia 16 tahun. Undang-undang mengamanatkan setiap anak (tidak peduli status kependudukannya, apakah imigran atau refugee) berhak mendapatkan akses pendidikan, selama anak ini tinggal di Jerman dan belum menginjak usia 16 tahun. Pemerintah wajib menyalurkan anak usia sekolah ke sekolah terdekat dengan tempat tinggal. Ini mirip dengan ketika ...
Comments